Simak Panduan Beli Apartemen Bagi Milenial (Bag 2)

Oleh Fathia Azkia pada 13 Nov 2017, 16:21 WIB
Apartemen Silk Town Tangerang

Liputan6.com, Jakarta Melanjutkan pembahasan Panduan A-Z Beli Apartemen Bagi Milenial (Bag 1), langkah tepat yang harus dilakukan selanjutnya adalah sebagai berikut.

Amati Kenaikan Harga

Patut diketahui, pengembang apartemen memiliki strategi tersendiri ketika hendak menaikkan banderol harga. Misalnya ketika pergantian tahun, atau ketika beberapa unit terjual habis dalam waktu cukup singkat.

Pada umumnya apartemen mengalami kenaikan harga sekitar 10% dalam satu tahun, meski ada juga yang tidak naik sama sekali. “Nah ini yang wajib diantisipasi kaum muda. Jangan sampai sadar-sadar harga sudah naik tinggi. Makanya cara cicil DP tadi tepat banget untuk mengunci harga saat ini,” kata Property Advisor Synthesis Residence Kemang, Imron Rosyadi kepada Rumah.com.

Simak juga: Apartemen Rp300 Juta Ini Cocok Jadi Rumah Pertama Kaum Milenial

Kenaikan harga bisa menjadi sinyal positif mengenai reputasi proyek itu sendiri, oleh karenanya konsumen harus mengantisipasinya dengan segera melakukan booking fee.

Sebabnya, kenaikan harga sudah tentu akan berpengaruh pada jumlah ilustrasi KPA. Sehingga apabila apartemen idaman harganya sudah terlanjur melejit, Anda harus meninjau skema pembiayaan ulang sebelum mengambil keputusan.

Cara mudah untuk mengetahui seberapa besar kemampuan Anda dalam mencicil apartemen, bisa ditemukan lewat Kalkulator Keterjangkauan.

Ada Biaya Ekstra

Berbeda dengan tinggal di rumah, hunian vertikal dikelilingi oleh fasilitas lengkap yang memerlukan biaya perawatan. Biaya ini tidak hanya berlaku untuk apartemen mewah saja, melainkan juga apartemen menengah ke bawah.

Akrab disebut service charge, biaya ini mencakup perawatan taman, kebersihan, listrik lift, serta membayar gaji sekuriti dan pegawai. Besaran biaya servis berbeda-beda sesuai dengan luas unit dan jenis apartemennya.

Semakin luas dan lengkap fasilitas apartemen yang Anda tempati otomatis biaya servisnya akan lebih besar. “Biayanya berbeda tergantung kelas apartemen itu sendiri. Hitungannya sendiri ada pengaruh dengan Upah Minimum Regional (UMR). Umumnya, apartemen luasan 30m2 itu biaya servis per bulan kisaran Rp200 ribu – Rp300 ribu,” tambah Imron.

Penghuni apartemen juga akan dikenakan biaya listrik, air, serta parkir. Untuk biaya parkir, peraturannya berbeda di setiap apartemen. Ada yang memberikan fasilitas parkir gratis untuk 1 mobil per unit apartemen, namun ada juga yang mematok tarif bulanan tertentu.

Status Tanahnya Bagaimana?

Jika tanah di rumah tapak bersertifikat SHM, maka status tanah di apartemen adalah Hak Guna Bangunan atau HGB. “Tidak perlu khawatir dengan HGB, karena status ini sama seperti hak milik, bedanya hanya ada jangka waktu yang harus diperpanjang per periode, seperti 20 tahun.”

Baca juga: Tahap Perpanjang Sertifikat Hak Guna Apartemen

“Sedangkan sertifikat unitnya dinamakan Satuan Rumah Susun (Sarusun). Mau kelas rusunami sampai apartemen mewah sekalipun sertifikatnya sama (Sarusun). Nah, di bawah tanah yang HGB tadi, ada NPP atau Nilai Perbandingan Proporsional untuk jatah tanah bagi penghuni. Jadi meskipun tanah bersama, semua tetap punya ha katas tanah,” cetusnya.

Cek Review

Apartemen diakui memang lebih berisiko ketimbang membeli rumah tapak, lantaran waktu pembangunan apartemen yang tidak sebentar.

“Masa tumbuh inilah yang jadi risiko dan kerap jadi keraguan khususnya bagi pemula seperti kaum milenial. Untuk itu, minimalisir risiko dengan pelajari track record pengembang, dan cari tahu apakah proyek yang dipasarkan ini bagus atau tidak. Lalu pelajari after salesnya, bagaimana pengembang tersebut mengelola apartemennya,” Imron menambahkan.

(Simak Review Properti untuk cari tahu ulasan lengkap apartemen idaman Anda)

Saat berhadapan dengan bagian pemasaran apartemen, poin-poin berikut ini juga sangat penting untuk ditanyakan, mulai dari:

  1. Kapan mulai dibangun dan kapan diperkirakan selesai?
  2. Kapan waktu yang realistis untuk serah terima kunci?
  3. Fasilitas-fasilitas (kapasitas daya listrik, lift, cleaning service, security)
  4. Harga dan diskon
  5. Spesifikasi bangunan (eksterior maupun interiornya)
  6. Term of payment di luar bank (pola pembayaran tunai bertahap tanpa bunga, misalnya ada pengembang yang membolehkan mengangsur sampai 60 kali tanpa bunga)
  7. Ada atau tidaknya buy back guarantee dan bagaimana persyaratan serta mekanismenya
  8. Informasi tentang bank yang menjadi mitra resmi pengembang. Biasanya bank tersebut menawarkan suku bunga lebih murah. Apalagi kalau bank itu berasal dari satu kelompok usaha dengan pengembang.
  9. Kalau pengembang tidak memiliki bank sebagai official partner, minta rekomendasi dari pengembang untuk menggunakan bank mana. Sebagai catatan, rekomendasi itu tidak harus selalu Anda turuti. Andalah yang sepenuhnya memutuskan akan mencari pinjaman di bank mana.
  10. Segmentasi pasar yang bermanfaat untuk menaksir karakteristik populasi penghuni apartemen

Jadi, siapa bilang generasi milenial susah punya hunian sendiri? Segera atur strategi keuangan Anda dan temukan pilihan rumahnya mulai Rp300 jutaan di www.rumah.com/perumahan-baru.