3 Pengalaman Menegangkan Ojek Online yang Antar Dokter Pembunuh

Oleh Jennar Kiansantang pada 14 Nov 2017, 07:00 WIB
Rahmat, pengemudi ojek online, saksi pembunuhan dokter Letty (kanan). (Liputan6.com/Nafiysul Qodar)

Liputan6.com, Jakarta - Seorang tukang ojek bernama Rahmat "terlibat" peristiwa pembunuhan. Tidak hanya sekali, takdir mempertemukannya dua kali dengan pelaku pembunuhan.

Hari itu, Kamis (9 November 2017) lalu, ia menjalankan pekerjaan seperti biasa. Rahmat menunggu penumpang melalui aplikasi.

Selanjutnya ia mengantar penumpang ke tujuan. Namun, aplikasi mempertemukannya dengan pelanggan bernama dokter Ryan Helmi.

Nama itu belakangan menjadi sorotan publik. Dokter Helmi terkenal karena pembunuhan sadisnya pada sang istri, dokter Letty Sultri.

Letty ditembak enam kali oleh Helmi. Pembunuhan itu terjadi di Klinik Azzahra, tempat Letty berpraktik.

Rahmat berada di lokasi sejak dokter Helmi pertama kali tiba di Klinik Azzahra, hingga menyerahkan diri ke Polda Metro Jaya.

Dalam prarekonstruksi yang digelar polisi, Senin (13/11/2017), Rahmat turut disertakan polisi. Ia memperagakan beberapa adegan.

Liputan6.com merangkum beberapa persinggungan Rahmat yang menegangkan dengan pelaku pembunuhan.

1 of 4

Mengantar dari Kantor Wali Kota Jakarta Timur

Kamis (9 November 2017) siang lalu, Rahmat membuka aplikasinya. Sebuah pesanan masuk.

Si pemesan belakangan diketahui adalah dokter Helmi. Menurut Rahmat, keduanya berangkat dari kawasan di sekitar Kantor Wali Kota Jakarta Timur.

"Awalnya di sekitar kantor Wali Kota (dapat penumpang pelaku), lalu ke klinik," ujar Rahmat usai melakukan prarekonstruksi di Mapolda Metro Jaya, Senin (13/11/2017).

Tidak ada yang mencurigakan dari penampilan Helmi saat itu. Rahmat mengenang perjalanannya hari itu seperti bisa saja.

"Di jalan dia diem aja. Kalau dia ngomong mau nembak, ya saya kaburlah," kata dia.

Selesai mengantar dokter Helmi, Rahmat tak langsung pergi. Dia berhenti beberapa saat di parkiran klinik sambil mencari orderan penumpang lain.

2 of 4

Dengar Suara Tembakan

Saat menunggu di depan Klinik Azzahra, Rahmat mendengar suara letusan. Suara itu ternyata berasal dari tembakan dokter Helmi ke arah istrinya dokter Letty.

Rahmat menghitung ada enam kali suara letusan. Waktu itu, ia belum menyadari apa yang terjadi.

Tiba-tiba, suasana di Klinik Azzahra berubah kacau. Rahmat melihat orang-orang berhamburan dari dalam klinik.

Mereka semua tampak panik. Begitu sadar apa yang terjadi, Rahmat terkejut.

"Dari parkiran dengar ada suara itu (tembakan). Kaget saya, kok itu penumpang saya. Ya kaget, orang kan teriak," ucap dia.

3 of 4

Tak Lihat Senjata Pembunuh

Alih-alih melarikan diri, dokter Helmi keluar Klinik Azzahra dengan tenang. Ia menghampiri Rahmat yang masih berada di depan klinik. Ia meminta di antar ke Polda Metro Jaya. Pesanan kali itu tidak melalui aplikasi.

Rahmat mengaku masih terkejut ketika Helmi berjalan ke arahnya. Dalam kondisi masih kebingungan, ia mengantarkan Helmi ke Polda Metro Jaya.

Namun, Rahmat mengaku tidak melihat keberadaan senjata api yang digunakan Helmi untuk membunuh istrinya.

"Abis nembak dia ngomong, 'ayo Pak ke Polda, saya mau menyerahkan diri. Saya cuma dengar suara tembakan, enggak lihat pistolnya," cerita Rahmat.

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah ini

Lanjutkan Membaca ↓
Musthofa Ali MizaniMusthofa Ali Mizani

Perlu pimpinan yang diktator baik.

Tubagus SutisnawinataTubagus Sutisnawinata

Ya, hukum itu seperti permen karet. Lentur dan kenyal hingga bisa dikunyah-kunyah. Manis, enak untuk dinikmati. Makanya jangan heran banyak orang yang suka pada permen karet ( baca : banyak orang suka jadi aparat hukum ).

Tubagus SutisnawinataTubagus Sutisnawinata

Sudah saatnya hukuman mati dijatuhkan kepada pelaku pembunuhan yang direncanakan, seperti dokter Helmy ini. Kalau proses hukum kepada para pelaku seperti ini masih ada " main-main " , maka dapat dilihat pada hukuman yang dijatuhkan. Aturan hukum kita seperti permen karet.

Lihat Lainnya