Menpar Arief Yahya Meresmikan Bisnis Inkubator BizAccel

Oleh hidya anindyati pada 04 Okt 2017, 10:00 WIB
Menteri Pariwisata Republik Indonesia Memberikan Kuliah Tamu di President University serta Meresmikan Bisnis Inkubator BizAccel

Liputan6.com, Jakarta President University menjamu Dr. Ir. Arief Yahya, M.Sc., Menteri Pariwisata Republik Indonesia dalam acara Presidential Lecture yang bertema "Indonesian Tourism & Entrepreneurship: Between Local Business Creation and Global Competition" dan diselenggarakan di Charles Himawan Auditorium, President University (25/9). Acara tersebut dibawakan oleh Dwi Larso, Ph.D, Wakil Rektor Bidang Akademik President University dan dihadiri oleh Dr. H.M Ahman Sya, Deputi Bidang Pengembangan Kelembagaan Kepariwisataan, para pimpinan hotel di Kawasan Jababeka, beberapa pebisnis dari perusahaan-perusahaan di kawasan Jababeka serta sekitar 400 dosen dan mahasiswa.

Acara dibuka oleh sambutan dari Dwi Larso dan dilanjutkan dengan paparan dari Arief Yahya. Dalam paparannya, ia menekankan akan pentingnya media digital untuk membantu proses branding. Efektivitas media digital empat kali lebih banyak daripada media konvensional. Pencarian dan share 70% menggunakan digital.

Platform digital merupakan salah satu platform kunci yang dioptimalkan pemerintah untuk menunjang kegiatannya sehingga menghasilkan pertumbuhan yang sangat signifikan. Pertumbuhan Indonesia empat kali lebih cepat dibandingkan pertumbuhan regional dan global, dengan pertumbuhan 23.53% dari Januari hingga Juli 2017.

Arief Yahya memaparkan mengenai penghargaan yang diraih oleh Indonesia melalui video yang dibuat oleh Kementrian Pariwisata Indonesia yang berjudul “Wonderful Indonesia”. Indonesia telah meraih 46 penghargaan di 22 negara pada tahun 2016 dan pada tahun 2017, Indonesia berhasil meraih dua penghargaan pada acara bergengsi “United Nations World Tourism Organization (UNWTO) Video Competition”.

“Untuk melakukan branding yang efektif, tempatkanlah brand tersebut di tempat yang strategis dan di momen yang tepat. Pada saat itu kami memasang papan iklan ‘Wonderful Indonesia’ di kota Paris yang sedang menggelar acara Euro Cup. Hasil tersebut efektif untuk meningkatkan jumlah wisatawan Perancis yang berkunjung ke Indonesia. Kami juga menempatkan iklan di beberapa tempat strategis di negara-negara seperti Inggris, Belanda, Australia, Jepang, Cina, dan Korea.” Ungkap Arief.

Menurut Arief, untuk menarik minat wisatawan dan investor, upaya deregulasi Indonesia harus fokus pada dua hal yaitu kemudahan masuk ke Indonesia dan kemudahan berbisnis.

Selain itu, ia menjelaskan perlunya agen perubahan, dan agen perubahan yang paling efektif adalah perguruan tinggi. Oleh karena itu, perguruan tinggi di indonesia yang khususnya memiliki prodi pariwisata diharapkan ikut menyiapkan masyarakat untuk pengembangan pariwisata berkelanjutan. Kementrian Pariwisata berharap universitas bisa membantu untuk mensosialisasikan tempat wisata di Indonesia kepada masyarakat.

“Saya juga mengharapkan hal yang sama kepada President University.  Berfokus di manufacturing tourism merupakan langkah yang smart, karena di daerah cikarang ini penuh dengan industri. Saya harap President University menjadi change agent untuk manufacturing tourism di kawasan cikarang.” ujar Arief.

Acara diakhiri dengan penyerahan token apresiasi dan foto bersama.

Pada hari yang sama, Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Arief Yahya meresmikan Entrepreneurship Incubator yang bernama Laboratorium SetSail BizAccel, The President University Business Accelerator yang terletak Kota Jababeka. Program ini merupakan inkubasi bisnis bagi mahasiswa President University.

Dalam peresmiannya, Arief Yahya menyampaikan pesan bahwa inkubasi bisnis ini harus bisa menyiapkan untuk memenangkan persaingan global, dan inkubasi bisnis jaman sekarang harus diarahkan ke arah digital. Inkubator bisnis ini harus dekat dengan industri agar bisa berjalan dengan baik dan hasil inkubasinya dapat diserap oleh pasar.

Pemilihan nama Setsail BizAccel mencerminkan inkubator ini akan membawa peserta inkubator untuk berlayar menuju masa depan yang lebih baik. Inkubator yang baru dibuka ini memiliki 30 peserta awal yang bergerak di berbagai bidang lini bisnis.

President University menyambut baik kerjasama dengan praktisi termasuk kalangan industri dan entrepreneur. Dengan dicanangkannya Kurikulum 2017 President University, proses pembelajaran menuntut keterlibatan para praktisi dalam bentuk pengajaran dalam tim, kuliah tamu, mentoring, internship, kunjungan dan kuliah di industri. Selain itu, kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat akan berkolaborasi dengan dunia industri. Keberadaan President University di tengah-tengah ribuan industri di Jababeka harus mampu mengambil manfaat sebesar-besarnya akan kekuatan ini.

Kurikulum 2017 mengedepankan pengembangan profesionalitas dan kewirausahaan. Setiap mahasiswa President University mendapat materi kuliah wajib Entrepreneurship sejak semester awal dengan tujuan pengembangan pola pikir dan perilaku kewirausahaan. Pola pikir dan perilaku kewirausahaan ini, seperti percaya diri, pantang menyerah, tekun, berpikir positif, optimistis, sangat lah menentukan kesuksesan lulusan Perguruan Tinggi, apapun profesinya di masa depan.

Pada tahun kedua, mahasiswa diberikan materi Intrapreneurship, dimana perilaku kewirausahaan diterapkan dalam lingkungan organisasi besar. Mahasiswa dikelompokkan ke dalam suatu 'perusahaan' untuk merancang, menjalankan, dan memanfaatkan hasilnya untuk kegiatan sosial. Di sini mahasiswa belajar berbagai ketrampilan dan perilaku terkait manajemen, risk taking, komunikasi, kepemimpinan, manajemen konflik, negosiasi, teknik menjual, dan lain-lain. Di tahun ketiga, mahasiswa diberi kesempatan untuk menjalankan bisnis nyata dibimbing oleh mentor wirausaha, selama satu tahun penuh.

“Untuk mendukung kurikulum tersebut, maka peran praktisi dan wirausaha dari dunia industri adalah sangat vital dengan tujuan memberikan wawasan, bimbingan, dan pengalaman ke para mahasiswa. Kesuksesan pendidikan kewirausahaan ini harus didukung suatu ekosistem yang sehat. Salah satu elemen ekosistem itu adalah suatu fasilitas akselerasi bisnis. Untuk itu, Menteri Pariwisata, Bapak Arief Yahya berkenan meresmikan SetSail BizAccel di lingkungan Universitas Presiden yang ditujukan sebagai sarana bertemu dan bersinerginya para entrepreneur sebagai mentor, mahasiswa sebagai calon entrepreneur, modal ventura, dosen pembina, dan lain-lain. Seperti yang disampaikan Menteri Pariwisata, SetSail BizAccel ini diarahkan untuk mengembangkan Start-Up baru di bidang teknologi (technopreneurship), terutama dengan memanfaatkan kemajuan dunia digital (digipreneurship).” ungkap Dwi Larso.(*)