Jokowi: Kalau Tak Ngotot, Indonesia Hanya Dapat 9% dari Freeport

Oleh Ahmad Romadoni pada 04 Sep 2017, 23:37 WIB
20151118-Keterangan-Pers-Jokowi-FF

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi menjadi sorotan karena berhasil mengambil alih 51 persen saham PT Freeport Indonesia. Jokowi pun mengungkapkan apa yang terjadi sampai akhirnya Freeport mau melepas 51 persen saham untuk Indonesia.

Jokowi mengungkapkan, negosiasi antara pemerintah Indonesia dengan Freeport terbilang cukup lama. Terhitung, negosiasi dilakukan selama 2,5 tahun.

Memang perundingan sangat alot. Kemudian, 6 bulan terakhir perundingan lebih intensif dan akhirnya membuahkan hasil, yakni 51 persen saham Freeport milik Pemerintah.

"Memang alot. Negosiasi tidak ngotot ya dapatnya 9% lagi," ujar Jokowi saat membuka Rakernas III Projo di Britama Arena Sport Mall Kelapa Gading, Jakarta Utara, Senin (4/9/2017).

Hal yang sama juga terjadi para pengelolaan Blok Mahakam. Sebelumnya, Blok Mahakam dikelola oleh perusahaan Jepang dan Prancis. Akhirnya, pemerintah berhasil mengambil alih 100 persen blok Mahakam.

Semua pengelolaan kini diserahkan kepada PT Pertamina. Setelah itu, Pertamina bekerja sama kembali dengan pihak lainnya bisa saja dilakukan.

"Sekali lagi mayoritas saham itu harus dimiliki oleh Indonesia. Masak 1% saja nggak diberi. Iya yang Mahakam itu diam saja bertahun-tahun," ucap dia.

Saksikan Video Menarik Berikut Ini:

Tag Terkait

wenasovwenasov

Persoalan Freeport itu rumit, masyarakat apapun kebijakan yg diambil pemerintah itu yang terbaik Yang harus ditekankan adalah pembahasan saat ini adalah jangka waktu rampungnya divestasi. Sedangkan untuk angka divestasi sebesar 51 persen sudah menemui kesepakatan dari kedua belah pihak.

Antoni PanjaitanAntoni Panjaitan

RI perlu strategy untuk ambil alih FreePort..

Bambang PrasetiaBambang Prasetia

ya..kehadiran investor operator masih dibutuhkan ..masyarakat berharap kapan Negara kita mampu mengelola.. bukan hanya memeliki saham.. krn hrus hati2 komponen HPP dlm "heavy equipment dan Technology" itu banyak mengandung dri off shore.. dari kita hanya pekerja ..buruh Sebaik diaudit dg cermat.

Lihat Lainnya