PKS: 2 Kemungkinan Penyebab 4 Prajurit TNI Gugur di Natuna

Oleh Putu Merta Surya Putra pada 19 Mei 2017, 18:21 WIB
Mabes TNI AD Investigasi Penyebab Insiden Meriam di Natuna

Liputan6.com, Jakarta - Anggota Komisi I DPR, Sukamta mengungkapkan, hingga kini belum ada kejelasan terkait insiden tewasnya 4 prajurit TNI Angkatan Darat saat latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) di Natuna

"Namun menurut hemat saya, setidaknya ada 2 kemungkinan penyebabnya, bisa karena kerusakan teknis senjatanya yaitu Giant Bow bermerek Chang Chong ini, atau bisa karena kesalahan teknis prajurit yang mengoperasikannya, human error. Bisa jadi juga kombinasi keduanya, kesalahan teknis senjata yang ditambah human error karena panik misalnya," ucap Sukamta saat dikonfirmasi, Jumat (19/5/2017).

Ia menjelaskan, kecelakaan yang menimpa TNI sudah beberapa kali terjadi, seperti pesawat dan helikopter jatuh. Dari serangkaian kejadian tersebut, ada 2 kemungkinan yang menyertai. Belakangan juga terjadi rudal C705 terlambat meledak saat uji coba di KRI Banjarmasin September 2016.

"Untuk itu saya mendorong kepada TNI menginvestigasi hal ini secara komprehensif dan memberikan keterangan secara resmi apa yang sebenarnya terjadi di lapangan," tegas pria yang menjabat Sekretaris Fraksi PKS ini.

Apapun hasil investigasinya, Sukamta menambahkan, evaluasi dan peningkatan kualitas prajurit dan alutsista menjadi suatu keharusan dan keniscayaan. Hal tersebut berbarengan dengan peningkatan skill, kedisiplinan dan kesejahteraan TNI.

"Senjata yang digunakan prajurit TNI berbahaya semua, seperti meriam giant bow ini yang konon memiliki kecepatan proyektil 970 meter per detik. Maka harus dioperasikan dengan skill dan mental yang tidak main-main. Selain itu juga pengadaan alutsista musti diperketat pengontrolan kualitasnya. Kita terus mendorong peningkatan alutsista TNI, tidak hanya kuantitasnya, aspek kualitas juga harus diprioritaskan," beber dia.

Ia mengatakan, lebih baik memiliki jumlah alutsista TNI tidak banyak tapi berkualitas, ketimbang punya alutsista banyak tapi tidak berkualitas. "Karena alutsista yang tidak berkualitas membahayakan kita sendiri," pungkas Sukamta.