Ahok: Bantuan Sosial Tidak Mendidik Masyarakat

Oleh Liputan6 pada 10 Mar 2017, 14:45 WIB
Ahok: Bantuan Sosial Tidak Mendidik Masyarakat

Liputan6.com, Jakarta Pasangan Cagub Pilkada DKI nomor urut 2 Basuki Tjahaja Purnama – Djarot Saiful Hidayat tidak mau memanjakan masyarakat Jakarta dengan memberikan bantuan sosial yang tidak mendidik, tetapi memberikan layanan publik yang berkeadilan sosial sesuai sila ke-5.

“Siapapun anda asal memiliki KTP DKI atau mereka yang tidak mempunyai KTP DKI kalau sakit masuk Puskesmas akan kita urus, dan jika masuk rumah sakit memilih kelas 3 akan kami tanggung. Jadi mau maki-maki saya dan mendemo saya tetapi kalau sakit asalkan mau masuk kelas 3 akan ditanggung oleh Pemprov,” ujar Basuki di masa kampanye putaran pertama Pilgub DKI Jakarta lalu.

“Inilah yang dimaksud dengan Ketuhanan sila pertama dan Keadilan dalam sila kelima, merupakan implementasi dari butir-butir Pancasila itu,” tegasnya.

Untuk itulah Basuki mengingatkan kepada semua calon pejabat dan pejabat yang hidup di negeri yang memiliki falsafah hidup Pancasila, harus mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat yang dilayaninya.

"Semuanya bisa dimulai dari anak-anak, memberikan vaksin, Kartu Jakarta Pintar, anak-anak diberikan gizi yang baik misal membeli daging sapi satu kilo Rp 35.000,-. Orang tua dan lansia naik bis tidak bayar, menikmati fasilitas RPTRA, anak-anak kita jemput untuk jalan-jalan. Saya ingin semua dari anak-anak, bapak ibu, nenek kakek terlayani. Karena keluarga yang baik akan melahirkan anak yang baik dan negara akan menjadi baik. Kalau keluarga kecil sudah pecah belah tiada guna,” imbuhnya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, pemberian subsidi terhadap pendidikan, perumahan, kesehatan, transportasi, sampai sembako adalah program yang sudah di jalankan oleh pasangan Basuki-Djarot. Untuk pengembangan ekonomi rakyat program bagi hasil 20-80, dua puluh untuk Pemda dan delapan puluh untuk rakyat Jakarta.

“Saya yakin kalau pemerintah mau menolong orang yang rajin dan mau bekerja, dengan memberikan ketrampilan, misal dalam bidang IT, tentunya harkat dan martabat orang tersebut akan naik,” jelas Basuki.

“Ini kan seperti tinggal di rusun, saya bilang sama ibu bapaknya. Masa ibu dan bapak mau doain anaknya terus tinggal di rusun. Ini kan kejam namanya. Seharusnya kan generasi penerusnya tidak tinggal di rusun lagi, ada perkembangan dan maju,” jelasnya lebih jauh.

Basuki tidak mau memanjakan rakyat, tidak mau memberikan bantuan tetapi kita mau memberikan keadilan sosial dengan cara mengadministrasi keadilan dengan baik. “Inilah konsep amal sosial yang dimiliki Basuki dan Djarot,” pungkasnya.

(*)