Mimpi Buruk Bisa Picu Bunuh Diri, Kok Bisa?

Oleh Gabriel Abdi Susanto pada 08 Okt 2013, 12:00 WIB
mimpi-buruk-sulit131007c.jpg
Sebuah penelitian baru mengungkapkan bahwa gangguan tidur, terutama mimpi buruk merupakan tanda yang kerap ditemui dapat membuat orang mudah bunuh diri.

“Sejauh pengamatan kami, ini adalah laporan pertama yang menghubungan antara mimpi buruk dan bunuh diri pada orang yang pernah mencoba untuk bunuh diri,” ujar Nisse Sjstrm dan tim peneliti dari Sahlgrenska University Hospital, Gteborg, Swedia.

Para peneliti menambahkan, bagaimanapun juga, meski penemuan ini mengaitkan antara mimpi buruk dan bunuh diri, pada dasarnya hal ini tidak menyiratkan hubungan sebab akibat antara keduanya.

Sjstrm dan para penelitinya melakukan penelitian pada 165 orang dewasa yang berusia antara 18 hingga 68 tahun yang berada di Sahlgrenska University Hospital setelah orang-orang ini mencoba bunuh diri.

Para pasien ditanya mengenai kebiasaan tidur apakah mereka mempunyai gangguan tidur atau tidak, dan seberapa sering mereka mengalami mimpi buruk.

Mereka juga dievaluasi intensitasnya dalam melakukan percobaan bunuh diri dengan menggunakan skala depresi bersamaan dengan Skala Penilaian Bunuh Diri yang menentukan dan menilai gejala pemikiran dan perilaku untuk bunuh diri.

Hampir semua pasien (89 persen) dilaporkan mempunyai setidaknya satu jenis gangguan tidur, dengan masalah yang paling umum susah tidur (79 persen). Demikian menurut para peneliti seperti dilaporkan dalam Jurnal SLEEP, Selasa (8/10/2013).

Sebagai tambahan, 69 persen pasien mengatakan bahwa mereka memiliki masalah tidur dan sekitar 60 persen mengatakan mudah terbangun saat tidur. Dua dari tiga pasien dilaporkan mengalami mimpi buruk.

“Sering mengalami mimpi buruk merupakan satu-satunya variabel tidur yang dikaitkan dengan kecenderungan untuk bunuh diri,” demikian menurut para peneliti.

Setelah memperhitungkan faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi tingkat bunuh diri, termasuk diagnosa mental, para peneliti menemukan bahwa pasien yang sering mengalami mimpi buruk mempunyai kecenderungan untuk bunuh diri hampir empat kali lipat jika dibandingkan dengan pasien yang tidak mengalami mimpi buruk.

“Hubungan antara gangguan tidur, mimpi buruk, dan bunuh diri terdengar masuk akal,” demikian menurut Dr. Clete Kushida, seorang ahli mengenai tidur yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

“Namun ini penelitian pertama yang menunjukkan bahwa hal ini benar-benar terjadi,” demikian tambahnya.  
Kushida, yang merupakan salah satu dari dewan direksi dari American Academy of Sleep Medicine's menyarankan kepada mereka yang mengalami perasaan depresi atau ingin bunuh diri, atau memiliki ganguan tidur jenis apapun, harus berkonsultasi kepada tenaga medis mengenai hal tersebut.

“Kebanyakan orang dewasa mengalami mimpi buruk, namun dalam kondisi tertentu. Biasanya ini berkurang dalam frekuensi dan intensitasnya ketika manusia tumbuh semakin dewasa,” jelas Kushida yang juga direksi dari Stanford University Center for Human Sleep Research di California.

Sering mengalami mimpi buruk dan gangguan tidur bisa jadi merupakan gejala dari pola tidur yang salah seperti  apnea. Kushida menekankan pada pentingnya mendapatkan pertolongan pada setiap gangguan tidur. Ia menambahkan jika dokter tidak mau menerima keluhan gangguan tidur yang dialami oleh pasien, maka pasien dapat mencari pertologan dari ahli yang mempunyai spesialis dalam menangani gangguan tidur.

(Abd)