Stres, Penyebab Hipertensi pada Remaja

Oleh Aditya Eka Prawira pada 17 Mei 2017, 13:00 WIB
Stres Remaja Hipertensi

Liputan6.com, Jakarta Hipertensi atau tekanan darah tinggi normal diderita oleh orangtua lantaran berkurangnya elastisitas fungsi pembuluh, dan sulit mengontrol asupan garam sehari-hari.

Namun, kini hipertensi--sama seperti penyakit orangtua lainnya--mulai menyerang remaja usia 13 sampai 18.

"Biasanya tidak menimbulkan gejala apa pun dan biasanya diketahui saat anak menjalani pemeriksaan kesehatan rutin," kata dr Adithia Kwee dari situs Klik Dokter dikutip oleh Health Liputan6.com pada Rabu (17/5/2017)

Menurut Adithia, faktor risiko seorang anak bisa menderita hipertensi selain karena riwayat keluarga, adalah ketidakmampuan mereka dalam mengelola stres.

"Stres psikogenik yang dialami para remaja juga dapat menyebabkan timbulnya hipertensi karena perubahan hormon-hormon dalam tubuh saat sedang stres," Adithia menambahkan.

Akan tetapi, merujuk dari situs Mayo Clinic, hipertensi yang terjadi akibat stres tidak untuk jangka panjang.

Tubuh remaja yang stres itu menghasilkan lonjakan hormon yang untuk sementara waktu meningkatkan tekanan darah Anda, dan menyebabkan jantung berdetak lebih cepat serta pembuluh darah menyempit.

Apabila remaja mampu mengelola stres dengan cepat, kemungkinan darah tinggi pun amat kecil.

Di situs itu tertulis bahwa berolahraga rutin selama 30 menit (lima kali dalam seminggu) dapat mengurangi stres dan memperbaiki kesehatan Anda juga, termasuk mencegah terjadinya hipertensi.

Tidak ada bukti stres dengan sendirinya menyebabkan tekanan darah tinggi jangka panjang. Kecuali jika setiap kali stres Anda makan berlebihan, melakukan kebiasaan minum alkohol, dan kebiasaan tidur yang buruk.

Semua itu dapat menyebabkan hipertensi. Bila tak segera ditangani, membuat Anda mengalami darah tinggi jangka panjang bahkan penyakit jantung yang berujung kematian.