Ini Kenapa Serangan Jantung pada Wanita Sering Tak Tertangani

Oleh Nilam Suri pada 27 Feb 2017, 11:00 WIB

Liputan6.com, Jakarta Limapuluh ribu wanita meninggal karena serangan jantung pada tahun 2014 di Amerika Serikat. Asosiasi Jantung Amerika baru-baru ini juga mengeluarkan pernyataan bahwa banyak pasien jantung wanita yang kurang tertangani. Menurut mereka, salah satunya adalah karena serangan jantung lebih sering diasosiasikan dengan pria, obesitas, dan lanjut usia.

Padahal kenyataannya sama sekali tidak seperti itu.

Ketika Anda membayangkan seseorang yang terkena serangan jantung, kemungkinan besar Anda akan membayangkan seseorang mengalami rasa nyeri tak tertahankan di dadanya. Tapi, penanda serangan jantung pada wanita bisa jadi jauh lebih samar dibanding pada pria.

Walaupun wanita penderita serangan jantung akan tetap merasa nyeri atau tekanan pada bagian tengah dadanya, secara mengejutkan, wanita yang mengalami serangan jantung juga akan merasakan sakit pada rahangnya, seperti melansir Women's Health, Senin (27/2/2017).

Penanda lain yang spesifik hanya pada wanita adalah sakit pada punggung bagian atas, nyeri pada lengan, rasa lelah yang intens, heartburn, atau hanya "merasa tidak enak," ujar Laxmi Mehta, MD, direktur klinis dari Women's Cardiovascular Health Program di Ohio State University's Wexner Medical Center, dan juga penulis utama pernyataan yang dikeluarkan oleh Asosiasi Jantung Amerika (AHA) tadi.

Menurut AHA, jika jantung tidak memberikan sinyal yang baik, rasa nyeri bisa menyebar ke rahang, leher, atau punggung. Namun, menurut Mehta para dokter masih belum mengetahui kenapa penyebaran rasa nyeri tadi hanya terjadi pada wanita, dan tidak pada pria.

1 of 2

Kenapa penderita penyakit jantung wanita kurang tertangani?

Menurut AHA, kebanyakan wanita menunggu sampai sekitar 54 jam sebelum mengunjungi dokter, sedangkan pria biasanya hanya menunggu selama 16 jam sebelum memeriksakan diri.

"Wanita memiliki kecenderungan kurang memiliki kesadaran terhadap risiko dasar mereka," jelas Mehta. "Mereka juga biasanya lebih pasif (mengenai kesehatan mereka)." Dan disaat yang sama mereka juga memiliki lebih banyak hambatan untuk menerima pengobatan, seperti harus mengurus anak.

Mehta kemudian menegaskan, semakin lama Anda menunda pengobatan, semakin buruk kondisi jantung Anda. "Wanita cenderung mengalami shok kardiogenik," yang artinya, jantung Anda secara tiba-tiba tidak bisa memompa cukup darah. Jika menunggu terlalu lama, penangan agresif bisa jadi tidak berguna lagi.

Wanita dari segala usia berisiko mengalami penyakit jantung. Dan menurut Mehta, walau belum diketahui kenapa, wanita muda yang mengalami serangan jantung biasanya lebih parah dibanding pria muda. Mereka yang memiliki diabetes tipe 2 atau tekanan darah tinggilah yang paling berisiko.

 

Lanjutkan Membaca ↓