Kurang Subur, Penyebab Pasutri Belum Juga Punya Anak

Oleh Aditya Eka Prawira pada 21 Mar 2016, 15:31 WIB

Liputan6.com, Jakarta Kurang subur (infertil) menjadi salah satu penyebab pasangan suami istri belum juga dikaruniai keturunan.

Jika istri masih berusia di bawah 35 namun juga hamil padahal tidak memakai alat kontrasepsi dan berhubungan seksual secara teratur selama satu tahun, dianjurkan segera memeriksakan kondisinya ke ahli fertilitas. Pun sang suami, harus melakukan hal yang sama.

Spesialis Obstetri dan Ginekologi Klinik Teratai Rumah Sakit Gading Pluit, dr Indra Nurzam Chalik Anwar, SpOG mengatakan, hal itu patut dilakukan sebab tidak sedikit pasangan yang sebenarnya kurang subur tetapi tidak mengetahuinya. 

Menurut Indra, kurang lebih 10 sampai 11 persen pasangan mengalami infertilitas. Penyebabnya bisa dari pihak istri, suami, atau malah kedua-duanya. "Tentu saja hal ini memerlukan penanganan yang terpadu, waktu khusus, dan biaya yang besar," kata Indra kepada Health-Liputan6.com ditulis Senin (21/3/2016)

Banyak sekali faktor yang memengaruhi kesuburan pria dan wanita. Ada yang mengalami gangguan ovulasi dan hormon, kelainan endometrium uterus, masalah di tuba fallopi, gangguan peritoneium seperti endometriosis, dan gangguan immunologic.

"Ada juga yang disebabkan oleh infeksi seperti hidrosalphing (penyebab yang menyerang kaum perempuan)," ujar dia.

Sedangkan pada pria, lanjut Indra, biasanya akibat jumlah sperma yang sedikit, bentuk atau motilits yang abnormal. "Penyebabnya beragam. Mulai dari kelainan bawaan dan didapat setelah dewasa, atau karena masalah fisik seperti trauma, infeksi, dan sinar radioaktif," kata Indra.

Faktor-faktor lainnya bisa berasal dari penetrasi yang tidak sempurna, ejakulasi abnormal, impotensi, dan kelainan antomi.

"Tentunya, lagi-lagi, karena gaya hidup. Lihat saja, berapa banyak orang di luar sana yang menunda perkawinan? Mereka mungkin tidak tahu, kesuburan wanita akan menurun begitu mereka memasuki usia 35 ke atas," ujar Indra.

"Baru menikah sepuluh tahun, mereka dihadapkan dengan menopause," kata Indra yang tercatat sebagai anggota American Society of Reproductive Medicine (ASRM).

Hal ini bisa terjadi karena cadangan sel telur terus berkurang setiap kali wanita mengalami menstruasi. "Ya, lama kelamaan akan habis. Sayangnya, banyak dari pasien saya yang tidak menyadari ini. Mereka menunda melakukan pemeriksaan, yang ujung-unjungnya tidak bisa diobati karena terlambat," ujar Indra.

Beda halnya dengan pria, selama anatomi testis dalam keadaan normal, pabrik sperma yang mereka punya tidak akan mengalami gangguan berarti. Namun, harus diperhatikan juga, untuk menjauhi alkohol dan kurangi konsumsi kafein berlebihan.