Sukses

Skandal Hoes Hoin dan Bocornya Foto Telanjang Tentara Wanita AS

Barisan petugas keamanan Amerika Serikat, baik di kepolisian maupun militer, tengah dilanda skandal Hoes Huin, yang menjadi ajang persebaran foto vulgar di dunia maya.

Liputan6.com, Washington DC - Meskipun telah terkuak luas oleh media -- dan berujung perubahan beberapa kebijakan -- investigasi lanjutan yang dilakukan Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS), menunjukkan foto-foto vulgar anggota marinir wanita atau  terus diunggah ke jagat maya.

Dilansir dari Bustle.com pada Senin (12/3/2018), laporan kantor berita Vice News menunjukkan sebaran foto vulgar para perwira wanita berpusat pada sebuah folder Dropbox bernama 'Hoes Hoin'.

Di sana, konon tersimpan lebih dari 250 foto perwira wanita dalam kondisi telanjang dan semitelanjang, yang berasal dari berbagai unit kesatuan di seantero AS.

Beberapa foto menunjukkan pose bernuansa seksual, potret nakal secara mandiri, dan aksi bugil yang diambil oleh orang lain. Kesemua foto seronok itu tersimpan di dalam tiga sub-folder di kotak 'Hoes Hoin' di Dropbox.

Menurut laporan Vice, sebuah tautan terhadap folder tekait, pertama kali dibagikan pada Februari 2017, di sebuah grup privat khusus pria di Facebook, yang bernama Blame Marines United (Non-Butthurt Edition).

Grup tersebut dibentuk oleh sebuah organisasi media non-profit The War Horse pada Maret 2017, dan secara berkelanjutan mengunggah foto-foto panas perwira wanita tanpa sepengetahuan mereka.

Oleh pihak Facebook, atas permintaan Departemen Pertahanan, grup terkait telah resmi ditutup. Meski begitu, para anggoranya diketahui masih kerap bersua dalam beberapa agenda serupa, baik di dunia maya ataupun dalam forum terbatas.

Menurut hasil penyidikan kejahatan siber oleh Departemen Pertahanan AS, terungkap adanya upaya peretasan pada jaringan komputer Kepolisian Laut AS oleh bantuan pihak dalam. Hal itu diduga kuat terjadi sudah lebih dari setahun lalu, tetapi baru terungkap menjelang akhir 2017.

Kemungkinan besar, peretasan foto vulgar dilakukan menyasar alamat IP pada koneksi internet di barak-barak latihan, yang mayoritas menjadi 'sumber andalan' untuk berkomunikasi via dunia maya.

 

 Simak video mengenai desain rompi anti perluru khusus tentara wanita berikut:

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 2 halaman

Pamer Foto Vulgar via Sistem Komunikasi Pemerintah

Kesatuan Polisi Laut AS atau US Marine bukanlah satu-satunya lembaga yang menjadi sumber tereksposnya foto-foto vulgar para 'pelayan negara' dari kelompok wanita.

Pada Januari lalu, The Daily Beast melaporkan adanya upaya penyebaran foto vulgar secara disengaja, yang menggunakan alamat IP milik Angkatan Laut AS.

Aksi tersebut dilakukan oleh sebuah sistem akses bernama Anon-IB hingga akhir 2017 lalu, yang menyebarkan unggahan pose telanjang beberapa tentara wanita.

Selain itu, sistem akses terkait juga turut membuka sebuah forum untuk bertukar informasi mengenai foto vulgar anggota kesatuan wanita.

Padahal menurut aturan Undang-Undang Militer dan Keamanan Nasional, para anggota, baik pria maupun wanita, dilarang menggunakan alamat IP dan kelengkapan surat virtual, untuk mengakses -- apalagi berbagi -- konten pornografi.

Tidak hanya sampai di situ, wanita-wanita lain di luar kesatuan militer dan keamanan juga sempat tersandung kasus serupa.

Salah satu kasus yang belum lama terungkap adalah, ketika salah satu anggota DPR AS ketahuan membagikan beberapa foto dan video vulgar seorang anggota kongres wanita secara diam-diam.

Ia pun kemudian diganjar hukuman hampir dua tahun penjaraatas tuduhan aksi konspirasi dan penysupan siber yang merugikan orang lain, tulis harian The Washington Post.

Sayangnya, hukuman yang diberikan oleh pihak internal, cenderung bersifat ringan, yakni tidak lebih dari satu minggu kurungan penjara.

Menurut laporan situs militer Task and Purpose, hanya 55 anggota Kepolisian Laut yang telah didisiplinkan terkait tindakan tersebut, dimana disebut sebagai ‘kelakuan buruk di media sosial’.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.