Serangan Militer AS di Suriah Diduga Menewaskan Tentara Bayaran Rusia

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 14 Feb 2018, 12:30 WIB
Jet tempur F-15 buatan Amerika Serikat

Liputan6.com, Damaskus - Bombardir udara dan artileri yang dilakukan oleh militer Amerika Serikat di Suriah pada pekan lalu diduga turut menewaskan sejumlah personel keamanan swasta/paramiliter (paramilitary contractors) Rusia yang bertugas di sana.

Seperti dikutip dari CNN (14/2/2018), dugaan itu mencuat setelah sejumlah kerabat korban mengutarakan klaim kematian anggota paramiliter tersebut.

Personel keamanan swasta yang tewas diduga bekerja untuk sebuah perusahaan paramilitary contractors bernama Wagner -- terdaftar di Hong Kong dan berafiliasi dengan Rusia, serta telah dijatuhi sanksi dari AS akibat terlibat mendukung separatis dalam Perang Saudara Ukraina.

Salah satu anggota Wagner yang tewas diketahui bernama Vladimir Loginov (51).

Seperti kebanyakan paramiliter Rusia yang bertugas di Suriah, Loginov merupakan Bangsa Kazaki (Cossacks), kelompok etnis Slav pro-Rusia yang mendiami distrik di selatan Rusia dan Ukraina, serta memiliki tradisi ultranasionalis juga militansi yang kental sejak Abad Ke-14 atau 15.

"Vladimir (Loginov) adalah warga negara Rusia yang tewas dalam pertempuran tidak seimbang. Vladimir tewas untuk Negara, Kazaki, dan kepercayaan Orthodox!" kata pihak The Baltic Cossack District, di mana Loginov diduga berdomisili.

Anggota Wagner lain yang diduga turut tewas dalam serangan AS itu adalah Kirill Ananyev.

"Kirill tewas akibat artileri AS yang menghantam unit Wagner," kata Aleksandr Averin, kerabat dekat Ananyev yang mengklaim sangat mengetahui aktivitas Wagner dan Ananyev.

Averin juga yakin bahwa orang Rusia anggota Wagner yang tewas akibat serangan itu 'kemungkinan besar lebih dari sekitar 2 - 3 orang'.

Wagner diketahui mengirim sekitar ratusan personel keamanan swasta yang ditugaskan untuk membantu Angkatan Bersenjata Rusia dan tentara pendukung Presiden Suriah Bashar Al Assad, kata para sanak-saudara yang juga mengklaim bahwa salah satu anggota keluarganya merupakan anggota firma itu dan tewas akibat serangan AS.

Kebanyakan Korban Tewas Adalah Militan Pro-Suriah

Kebanyakan korban tewas akibat serangan udara AS pekan lalu adalah militan pro-rezim dari kota Al Suqaylabiyah yang didominasi pemeluk Nasrani -- yang juga menjuluki diri sendiri dengan sebutan 'pemburu ISIS' di kawasan.

Sekitar 30 atau lebih anggota militan Al Suqaylabiyah diduga tewas -- kabar itu diperkuat dengan munculnya laporan tentang pemakaman massal yang dilakukan oleh kelompok tersebut.

Beberapa anggota suku Suriah pro Presiden Bashar Al Assad juga dikabarkan tewas. Dua di antaranya adalah anak dari kepala suku setempat.

Saksikan video pilihan berikut ini:

1 of 3

Baku Tembak

20170103-Militer-Rusia-Aleppo-Suriah-AP
Ilustrasi: Tentara Rusia berada di kendaraan militer saat melakukan patroli dalam operasi APCs di Aleppo, Suriah. (Russian Defense Ministry Press Service photo via AP)

Bombardir artileri dan udara berskala besar yang dilakukan oleh Amerika Serikat pekan lalu ditujukan untuk merespons aktivitas milisi berkekuatan 500 orang, sejumlah tank, artileri, dan peluncur rudal yang melintasi kawasan Sungai Efrat di Deir Ezzor.

Milisi itu tengah menyerang sebuah markas Pasukan Demokratik Suriah (SDF) pro-AS yang hanya berjarak sekitar 8 km dari posisi mereka dengan hujan artileri. Di markas itu diketahui terdapat sejumlah pasukan AS.

Pihak SDF dan AS merespons dengan melakukan bombardir seperti yang dimaksud, menewaskan sekitar 100 orang milisi dan menyebabkan sisa milisi mundur.

2 of 3

Tanggapan AS dan Rusia

Menteri Pertahanan AS James Mattis
Menteri Pertahanan AS James Mattis (AP Photo/Alex Brandon)

Menteri Pertahanan Amerika Serikat James Mattis mengaku terkejut terhadap kabar pertempuran di Deir Ezzor yang terjadi pekan lalu.

Ia bingung, terkait kemunculan dugaan warga negara Rusia anggota paramiliter Wagner yang tewas akibat respons militer AS atas pertempuran itu -- padahal sebelumnya, Rusia mengaku tak mengerahkan pasukan ke wilayah tersebut.

"Rusia sebelumnya mengatakan bahwa mereka tak mengerahkan pasukan ke sana. Sekiranya begitu menurut saya. Tapi, kami pun belum mengetahui secara jelas apa yang mereka lakukan di sana," kata Mattis.

"Rusia juga telah mengatakan bahwa mereka tak sadar ada pasukan yang menyeberan di Eufrat. Rusia pun juga telah diberitahu AS beberapa waktu sebelum serangan itu terjadi," kata Mattis.

Kementerian Pertahanan Rusia pun mengaku tak tahu-menahu tentang kehadiran paramiliter berkewarganegaraan Rusia yang hadir di Eufrat Deir Ezzor.

"Kami tak punya informasi tentang orang Rusia lain (selain pasukan konvensional) yang mungkin berada di Suriah. Sangat banyak warga Rusia di luar negeri, sehingga sulit untuk mendapatkan informasi detail-nya," kata Juru Bicara Kementerian Pertahana Rusia Dmitry Peskov.

Lanjutkan Membaca ↓