Merasa Terancam, Pentagon Ajukan Anggaran Militer Rp 9.349 Triliun

Oleh Citra Dewi pada 13 Feb 2018, 14:00 WIB
Pesawat Tempur AS Mendarat di USS Vinson (Lee Jin-man/AP)

Liputan6.com, Washington, DC - Departemen Pertahanan Amerika Serikat yang bermarkas di Pentagon, mengajukan peningkatan anggaran militer untuk tahun 2019 mencapai US$ 686 miliar atau sekitar Rp 9.349 triliun. Jika disetujui Kongres, itu menjadi anggaran militer AS terbesar sepanjang sejarah.

Pentagon mengatakan, peningkatan itu disebabkan karena meningkatnya ancaman dari China, Rusia, dan Korea Utara.

"Persaingan kekuatan, bukan terorisme, muncul sebagai tantangan utama bagi keamanan dan kemakmuran AS," ujar Under Secretary Of Defense, David L. Norquist, kepada awak media setelah mengumumkan proposal anggaran tersebut, seperti dikutip dari CNN, Selasa (13/2/2018).

Dalam dokumen pengajuan kenaikan anggaran militer AS oleh Pentagon, disebutkan bahwa China dan Rusia semakin jelas ingin membentuk sebuah dunia yang konsisten dengan model otoriter mereka.

Di sisi yang sama, Presiden Donald Trump mengatakan bahwa militer Amerika Serikat akan menjadi yang terkuat di dunia. Untuk mewujudkannya, AS akan meningkatkan kemampuan setiap senjata.

1 of 3

Peningkatan Sistem Pertahanan

Sisitem anti-rudal Terminal High Altitude Area Defence (THAAD) yang dipasang di Semenanjung Korea
Sisitem anti-rudal Terminal High Altitude Area Defence (THAAD) yang dipasang di Semenanjung Korea (AFP/DOD)

Rencana anggaran tersebut menekankan pada pertahanan rudal, dengan penambahan sistem yang telah diidentifikasi sebagai kunci untuk melawan ancaman yang ditimbulkan oleh program nuklir Korea Utara.

Rencana untuk menambah 82 alat pencegat rudal THAAD juga masuk dalam anggaran. Tahun lalu THAAD menimbulkan kontroversi besar saat dikerahkan ke Korea Selatan tahun lalu, salah satunya adalah adanya protes dari China.

Anggaran tersebut juga menyerukan peningkatan 20 rudal tambahan ke sistem Pertahanan Berbasis Darat yang akan mencegat hulu ledak di angkasa.

"Terus terang kami harus melakukannya karena yang lain juga melakukannya," ujar Trump.

"Jika mereka berhenti, kami berhenti, namun mereka tak pernah berhenti. Jadi jika mereka tak berhenti, kami akan mengungguli siapa pun dalam bidang nuklir seperti tak pernah Anda lihat sebelumnya," ucap Trump.

2 of 3

Menambah Pasukan

Tentara-Filipina-dan-AS
Tentara AS saat mengikuti simulasi bencana dan keamanan dalam latihan militer gabungan di Kota Casiguran, provinsi Aurora (15/5). Latihan militer tahunan ini berlangsung selama 10 hari. (AFP Photo/Ted Aljibe)

Peningkatan pendanaan juga membahas kekhawatiran Menteri Pertahanan James Mattis atas degradasi angkatan bersenjata.

"Saya sangat yakin bahwa apa yang telah dilakukan Kongres sekarang dan Presiden mengalokasikan anggaran atas apa yang yang kita perlukan akan membawa kita kembali ke posisi yang lebih baik," ujar Mattis kepada awak media yang pergi bersamanya ke Roma pada Minggu, 11 Februari 2018.

Proposal tersebut akan menambah 25.900 pasukan militer dan akan tumbuh menjadi 56.600 pada 2023. Menurut Norquist, hal tersebut membuat Departemen Pertahanan dapat merekrut pilot, ahli, dan pengelola keamanan maya.

Pasukan militer juga akan menerima kenaikan gaji sebesar 2,6 persen selama 2019, dan itu menjadi kenaikan gaji terbesar sejak 2010.

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓