Warga dan Turis Hawaii: Ya Tuhan, Akankah Misil Menewaskan Kami?

Oleh Arie Mega Prastiwi pada 14 Jan 2018, 09:40 WIB
Warga dan Turis Hawaii: Ya Tuhan, Akankah Misil Menewaskan Kami

Liputan6.com, Honolulu - Jocelyn Azbell baru saja terbangun di hotelnya di Maui, Hawaii pada hari Sabtu 13 Januari 2018 pagi saat dia bergegas menuju ke ruang bawah tanah hotel untuk berlindung dari sebuah rudal balistik.

"Anda berpikir, 'Oh astaga, apakah kita akan mati? Apakah benar-benar sebuah rudal tengah menuju ke sini, atau apakah itu hanya sebuah tes?'" kata perempuan berusia 24 tahun itu kepada CNN. "Kami benar-benar tidak tahu."

Beberapa menit sebelumnya, dia mendapat peringatan yang tidak menyenangkan di teleponnya.

"ANCAMAN MISIL BALISTIK MENUJU HAWAII. CARI SEGERA PERLINDUNGAN. INI BUKAN LATIHAN."

Dikutip dari CNN pada Minggu (14/1/2018), Azbel dan kekasihnya bersama ratusan tamu hotel digiring bak 'kawanan sapi' ke ruang bawah tanah oleh staf.

"Orang-orang sangat panik, dan semua begitu takut," lanjutnya.

Selama 20 menit, menurut Azbell, mereka menunggu. Akhirnya mereka dikabarkan, ternyata itu alarm palsu alias 'false alarm', dan mereka bebas untuk melanjutkan hari mereka.

Azbell mengatakan bahwa dia sangat lega. "Hawaii itu indah," katanya pada CNN. "Tapi bukan di sini aku ingin mati."

Kisah yang sama dituturkan warga dan turis lainnya kepada CNN. Mereka menggambarkan Hawaii yang bak surga itu berubah 180 derajat saat orang-orang merangkak di bawah meja di kafe, dibawa ke hanggar militer dan berkumpul di sekitar televisi untuk menonton berita terbaru perkembangan nasib mereka.

Jika sebuah rudal diluncurkan oleh Korea Utara ke Hawaii, 1,4 juta penduduk di pulau tersebut hanya memiliki sekitar 20 menit sebelum dihantam misil.

Badan manajemen darurat negara telah mulai menguji sistem sirene peringatan nuklir negara bagian. Orang Hawaii telah diberi tahu rencana aksi terbaik mereka adalah tetap berada di dalam dan berlindung di tempat sampai aman untuk pergi.

Namun banyak di pulau itu bukan penghuni, tapi turis. Mereka yang mengunjungi 'surga dunia itu' tidak memiliki pengalaman untuk mempersiapkan serangan rudal balistik.

Beberapa warga dan pengunjung berbicara kepada CNN mengenai ketegangan yang meningkat antara Amerika Serikat dan Korea Utara - dan perang kata-kata antara kedua pemimpin - membuat ancaman serangan misil bisa saja terjadi

Tak sedikit yang berkata bahwa ketegangan dan perang kata-kata antara Donald Trump dan Kim Jong-un begitu mengerikan dan sangat berpotensi, Hawaii akan diserang terlebih dahulu.

1 of 3

Satu Hari yang Berubah

Uji coba sirene peringatan serangan nuklir Hawaii
Hawaii telah menguji sirene peringatan serangan nuklir untuk pertama kalinya sejak Perang Dingin pada 1 Desember 2017 menyusul meningkatnya ancaman dari Korea Utara. (AP Photo/Caleb Jones)

Ruth Goldbaum berada di pulau Oahu bersama keluarganya, mengunjungi anaknya yang bertugas di Angkatan Laut Amerika Serikat.

Mereka akan pergi berperahu di Teluk Kaneohe, sebelah utara pulau itu, saat orang-orang mulai menerima peringatan darurat.

"Bisa dibayangkan," katanya, "ini adalah hari yang berubah total dari senang-senang bersiap piknik berubah tegang dan bikin bulu kuduk merinding. Saya tidak akan mengatakan panik, tapi khawatir. Dekat dengan kepanikan yang potensial."

Goldbaum, 69, dan orang-orang di sekitarnya - gabungan personel militer dan warga sipil - segera bergegas masuk ke hanggar terdekat, "tidak tahu apakah kita akan berada di sana berhari-hari, berjam-jam atau beberapa menit," katanya.

"Beberapa orang berkata, 'Nah, kita akan berperang.' Yang lain berkata,' Mari kita lihat apa yang sedang terjadi.' Sementara lainnya, 'Ya Tuhan, akankah rudal menewaskan kami,'" ucap Goldbaum mendeskripsikan suasana dalam hanggar.

Sekitar 15 menit menunggu detik-detik menegangkan, mereka melihat twit dari senator Tulsi Gabbard yang mengatakan bahwa itu adalah alarm palsu.

"Dalam 15 menit itu, emosi Anda terus berlanjut, mulai dari berpikir bahwa kita harus menghubungi orang lain dan mengatakan bahwa kita selamat, mengatakan kepada mereka apa yang terjadi ataukah mengucapkan selamat tinggal," Goldbaum mengatakan kepada CNN.

Goldbaum berkata "eskalasi kata-kata antara Amerika Serikat dan Korea Utara telah menempatkan negara ini dalam situasi yang sangat genting dan tidak stabil dan apapun bisa terjadi," katanya.

"Inikah yang akan terjadi di dunia ini? Haruskah kita berlari ke shelter perlindungan?" dia bertanya.

"Saya pikir satu-satunya jawaban adalah diplomasi dan kedamaian."

Orang-orang Merangkak di Bawah Meja

Suami Amy Pottinger adalah pilot untuk Angkatan Udara AS, yang ditempatkan di Hawaii. Mereka dan kedua anak mereka tinggal di sebuah pangkalan militer di sana sekitar satu setengah tahun.

Pottinger belum melihat peringatannya saat suaminya, yang sedang dalam perjalanan untuk bekerja, menelepon untuk memberi tahu bahwa dia sedang dalam perjalanan pulang.

Sang suami berada di sebuah kafe di pangkalan saat telepon mulai berdering di sekitarnya, kata Pottinger. Saat dia pergi, dia melihat orang-orang berlindung.

"Orang-orang merangkak di bawah meja dan bersembunyi," katanya, "dan pergi ke bangunan yang terlihat lebih kokoh."

Dalam waktu sekitar lima insting mereka merasakan bahwa ancaman itu tidak nyata, kata Pottinger.

Ketika ditanya apakah dia yakin ketegangan antara Amerika Serikat dan Korea Utara mampu membuat Kim Jong-un tekan tombol misil, perempuan itu menjawab, "tentu saja."

"Saya ingin tetap terdidik dengan apa yang sedang terjadi dalam berita dan itu terkait dengan pekerjaan suami saya," katanya kepada CNN.

2 of 3

Pengunjung Tak Tahu Kemana Harus Pergi

Warga dan Turis Hawaii: Ya Tuhan, Akankah Misil Menewaskan Kami
Mahasiswa di University of Hawaii at Manoa, berlari menuju shelter perlindungan usai mendapat peringatan pesan ancaman misil (Xinhua)

Kenyatta Hines bertugas di Angkatan Laut Amerika Serikat dan pindah ke Hawaii tiga minggu yang lalu untuk belajar menjadi pendeta.

Hines mengatakan kepada Ana Cabrera dari CNN bahwa dia sedang mandi dan tengah mencuci rambut saat mendapat peringatan.

"Saya melompat keluar dari kamar mandi untuk membaca pesannya," katanya, "dan mencoba menelepon pacar saya yang tengah ditempatkan di Pearl Harbor."

Pada saat itu, katanya, teleponnya tidak bisa dihubungi, "yang membuat situasi ini jauh lebih menegangkan".

Hines mengatakan bahwa dia tidak tahu apa langkah selanjutnya, jadi dia bertemu dengan tetangganya, yang telah berada di daerah itu lebih lama darinya.

"Tetangga saya dan saya mencoba untuk mencari tahu apakah kami akan pergi dengan mobil atau lari ke tempat penampungan terdekat," katanya.

Hines "diberkati," katanya, bahwa tetangganya yang lainnya adalah penduduk setempat dan tahu persis apa yang harus dilakukan.

Sebelum pindah ke Hawaii, Hines telah diperingatkan bahwa kemungkinan diserang misil bisa saja terjadi.

"Tapi, orang-orang yang baru saja mengunjungi Hawaii tidak tahu ke mana harus pergi atau apa yang harus dilakukan," kata Hines.

Itulah yang terjadi pada Adnan Mesiwala. Pria itu bersama keluarganya tengah mengunjungi Waikiki  untuk merayakan ulang tahun ayahnya yang ke 40.

"Pagi ini kami benar-benar bersiap-siap untuk pergi ke pantai," katanya.

"Saya memiliki bayi berumur 2 bulan, keluarga kami tengah bersama saat kami mendengar bunyi sirene. Kami benar-benar ketakutan."

Keluarganya tinggal di lantai 36 Hyatt Regency di Waikiki. Hotel tersebut mengatakan kepada para tamu untuk tinggal di dalam kamar, kata Mesiwala.

"Pagi itu panik," katanya pada KHNL, afiliasi CNN. "Istri saya menangis dan tidak tahu harus berbuat apa."

Ayahnya, Kutub Mesiwala, baru saja tiba malam sebelumnya.

"Dengan suasana politik tegang, kami benar-benar berpikir ini serius," kata Kutub Mesiwala.

Lanjutkan Membaca ↓