Benarkah Teori Kebahagiaan Albert Einstein Terbukti Buat Bahagia?

Oleh Citra Dewi pada 07 Des 2017, 19:20 WIB
Albert Einstein

Liputan6.com, Tokyo - Pada 1951, Albert Einstein mempublikasikan Teori Relativitas Umum. Lebih dari seratus tahun kemudian, teori tersebut terbukti menjadi kerangka kerja paling sukses untuk memahami alam semesta.

Teorinya tersebut, membimbing para ilmuwan untuk memahami lubang hitam, perluasan waktu, gelombang gravitasi, dan banyak penemuan lainnya.

Selain merumuskan Teori Relativitas Umum, ia juga 'merumuskan' teori lain. Bukan tentang fisika, seperti bidang ilmu yang didalaminya, Einstein mengungkap teorinya tentang cara memiliki kehidupan yang bahagia.

Terungkapnya 'teori' itu berawal kala Einstein sedang memberikan kuliah di Jepang pada 1922. Saat itu, seorang kurir Jepang tiba di Imperial Hotel, Tokyo, untuk mengirimkan pesan dari Einstein.

Kurir tersebut menolak menerima tip saat Einstein hendak memberikannya. Tak ingin kurir pergi dengan tangan kosong, fisikawan itu menulis dua catatan kecil dalam bahasa Jerman.

"Hidup yang tenang dan sederhana memberikan lebih banyak kebahagiaan, dibanding mengejar kesuksesan yang terus terikat dengan ketidaktenteraman," tulis Einstein dalam catatan pertama.

Sementara itu dalam kertas lain, Einstein menulis kalimat singkat, "Jika ada kemauan, di situ ada jalan."

Saat itu, Albert Einstein menyebut bahwa catatan tersebut akan jauh berharga di masa depan. Ucapannya terbukti. Catatan yang dijuluki 'Teori Kebahagiaan Einstein' itu terjual dalam lelang dengan harga US$ 1,56 juta atau sekitar Rp 21,1 miliar.

Menurut petugas arsip yang bertanggung jawab atas koleksi Einstein terbesar di dunia di Hebrew University, Roni Grosz, catatan itu tak serta merta memperlihatkan cerminan renungan Einstein tentang ketenarannya yang saat itu sedang berkembang.

Namun menurut Grosz, catatan itu dapat menjelaskan pemikiran pribadi Albert Einstein yang namanya sangat erat kaitannya dengan kejeniusan.

"Apa yang kita lakukan di sini adalah melukis potret Einstein, seorang manusia, ilmuwan, dan pengaruhnya terhadap dunia melalui tulisan-tulisannya," ujar Grosz.

"(Tulisan) ini adalah kepingannya," imbuh dia.

 

1 of 2

Membuktikan Kebenaran Teori Kebahagiaan Einstein

Kebahagiaan jauh lebih relatif dibanding relativitas umum. Jadi, sulit bagi para ilmuwan untuk memberikan jawaban apakah teori kebahagiaan Einstein benar-benar bisa membuat seseorang bahagia.

Namun, beberapa penelitian mencoba mengukur kebahagiaan seseorang dengan menggunakan sejumlah indikator.

Dalam sebuah studi, ditemukan bahwa mereka yang pindah profesi dari karyawan menjadi wirausaha yang sangat sibuk, memiliki kepuasan hidup yang tinggi. Hal itu bertentangan dengan teori kebahagiaan Einstein.

Sementara itu, studi lain menunjukkan bahwa orang-orang yang bahagia adalah mereka yang hidup seimbang: bekerja kurang dari tujuh jam per hari, sering berolahraga, menikmati makanan rumah lima kali per minggu, dan bersosialisasi seminggu sekali. Berbeda dengan penelitian sebelumnya, studi tersebut memperkuat teori Einstein.

Dikutip dari Live Science, Kamis (7/12/2017), salah satu eskplorasi ilmiah paling mendalam tentang kebahagiaan dan kesuksesan pernah diterbitkan pada 2005. Peneliti yang meninjau ulang 225 studi itu, mengungkap bahwa kebahagiaan lebih sering menimbulkan kesuksesan, bukan sebaliknya.

"Kebahagiaan membawa keberhasilan yang akan membawa kesuksesan dalam pekerjaan, hubungan, dan keseharan, dan keberhasilan ini berawal dari pengaruh positif seseorang," demikian tulis studi tersebut.

Jadi, mungkinkah masa-masa di mana Einstein merasa damai yang membuatnya bahagia dan mencetak beragam kesuksesan?

Seperti yang banyak diamati peneliti, kebanyakan manusia terperangkap dalam "hedonic treadmill", yakni adanya kecenderungan level kebahagiaan seseorang yang cenderung kembali ke keadaan asal meski telah mencapai kesuksesan yang dia inginkan.

"Kita bekerja sangat keras untuk mencapai sebuah tujuan, membayangkan kebahagiaan yang akan kita dapatkan jika meraihnya. Sayangnya, setelah mendapatkannya, dalam waktu singkat kita akan kembali ke keadaan asal dan mengejar hal lain yang menurut kita akan membuat bahagia," tulis seorang Profesor Psikologi di Knox College, Frank T McAndrew.

Itulah sebabnya orang-orang yang seharusnya mencapai puncak kebahagiaan, seperti pemenang undian, pengusaha sukses, dan selebritas, seringkali tak jauh lebih bahagia dibanding orang lain yang bersyukur dengan situasi mereka.

Atas dasar pertimbangan itu, teori kebahagiaan Einstein bisa dipertimbangkan untuk digunakan. Namun, karena kebahagiaan itu relatif, semua halnya kembali ke masing-masing individu.

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait