Dubes RI untuk Australia Pimpin Ziarah ke Makam Pahlawan di Cowra

Oleh Khairisa Ferida pada 12 Nov 2017, 11:05 WIB
Dubes RI untuk Australia Y. Kristiarto S. Legowo memimpin ziarah ke 13 makam perintis kemerdekaan Indonesia yang meninggal di kota Cowra

Liputan6.com, Cowra - Kedutaan Besar Republik Indonesia Canberra dan masyarakat Indonesia yang berada di Canberra menggunakan momentum peringatan Hari Pahlawan ke-72 tahun 2017 dengan melakukan ziarah ke 13 makam perintis kemerdekaan Indonesia yang meninggal di kota Cowra, Negara Bagian New South Wales, Australia.

Berdasarkan catatan historis, ke-13 pejuang kemerdekaan Indonesia yang dimakamkan di Cowra merupakan sebagian kecil dari sekitar 300 orang Indonesia, yang sebagian besar adalah tahanan politik Belanda yang terdiri dari laki-laki, perempuan, anak-anak dan awak kapal yang dibuang oleh Belanda pada saat Perang Dunia II dari Boven Digul, Papua, karena dikhawatirkan akan mendukung Jepang jika dibebaskan. Mereka umumnya meninggal di Cowra antara tahun 1942-1943 karena sakit.

Berbeda dengan Belanda yang menganggap mereka sebagai tawanan perang, Australia justru memberikan kesempatan mereka untuk bekerja dengan berkontribusi di Cowra, antara lain sebagai petani.

Duta Besar RI untuk Australia, Y. Kristiarto S. Legowo, memimpin langsung rombongan WNI dari Canberra yang terdiri dari Wakil Dubes RI, M.I. Derry Aman, tokoh masyarakat Indonesia, diplomat beserta staf KBRI Canberra dan KJRI Sydney, wakil dari berbagai organisasi keagamaan dan masyarakat, mahasiswa dan pelajar, perwira TNI yang sedang menempuh pendidikan militer serta Dharma Wanita Persatuan (DWP) KBRI Canberra.

Hadir dalam kunjungan ziarah tersebut, Wali Kota Cowra, Bill West, yang didampingi oleh sejumlah petinggi dan tokoh kota tersebut. Bersama Dubes RI, Wali Kota Cowra juga meletakkan karangan bunga di ke-13 makam.

 

Menurut Dubes RI, ziarah ke Cowra ini bertujuan untuk mengenang jasa dan pengorbanan para pejuang Indonesia yang meninggal dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Secara khusus, Dubes RI menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah Cowra yang telah merawat makam tersebut dengan sangat baik.

"Sejarah hubungan baik Indonesia dan Australia telah terjalin sebelum Indonesia merdeka seperti antara lain tercermin dari atensi dan kebijakan pemerintah Australia terhadap para perintis kemerdekaan Indonesia di Cowra tersebut. Acara ziarah ini sekaligus untuk mempertegas bahwa jasa mereka tidak akan pernah terlupakan", ujar Dubes RI yang sebelumnya menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri RI seperti dalam keterangan tertulis yang diterima Liputan6.com pada Minggu (12/11/2017).

Sementara itu, Wali Kota Cowra menyebut keberadaan makam perintis kemerdekaan Indonesia di kotanya adalah wujud kedekatan historis antara Indonesia dan Australia. Tak heran jika pemerintahnya senantiasa memberikan perhatian yang khusus untuk merawat makam-makam tersebut.

Acara kunjungan ke makam perintis kemerdekaan Indonesia di Cowra ini dinilai penting agar sejarah perjuangan mereka tidak dilupakan.

Hal ini diamini oleh Ike Supomo, wanita asal Jogjakarta yang sudah bermukim di Australia sejak tahun 1960-an. Ia mengapresiasi prakarsa Dubes RI yang mengajak masyarakat Indonesia berziarah ke makam pejuang. Pada tahun 1997, dirinya menjadi salah satu orang pertama yang mengunjungi makam tersebut bersama para pejabat KBRI Canberra saat itu dan sejumlah pejabat Indonesia yang datang dari Jakarta.

Peserta ziarah lainnya yakni Brenna Dwita, menilai kunjungan ke makam pejuang kemerdekaan Indonesia dapat memberikan inspirasi ke generasi muda tentang pentingnya memiliki semangat berkorban demi negara.

"Semangat seperti para pejuang tersebut perlu diekspos dan perlu kita teladani bersama", ujar mahasiswi S-2 Australian National University (ANU) yang juga menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia-Australia (PPIA) se-Australia ini.

Acara ziarah ke makam pejuang kemerdekaan di kota Cowra ini diakhiri dengan peletakan bunga di 13 pusara oleh para tokoh/wakil masyarakat Indobesia, perwira TNI, mahasiswa serta pelajar dan doa bersama yang dipimpin oleh Marpuddin Azis, tokoh Islam di Canberra.