NATO: Infrastruktur di Eropa Harus Siap Hadapi Situasi Perang

Oleh Khairisa Ferida pada 08 Nov 2017, 20:20 WIB
Menteri Pertahanan AS James Mattis dan Sekjen NATO Jens Stoltenberg

Liputan6.com, Brussels - NATO memerlukan infrastruktur sipil di Eropa untuk memenuhi kebutuhan militernya yang terus meningkat di mana ini berarti merujuk pada koordinasi antara pemerintah dengan sektor swasta. Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg.

Pernyataan Stoltenberg tersebut diungkapkan jelang pertemuan para Menteri Pertahanan anggota NATO di Brussels, Belgia. Mereka akan berkumpul untuk berdiskusi mengenai "revisi" Struktur Komando NATO.

Seperti dikutip dari Russia Today pada Rabu (8/11/2017), Stoltenberg meyakini bahwa revisi Struktur Komando NATO diperlukan untuk mengatasi ancaman yang muncul dari Rusia. Jadi, untuk "pencegahan dan pertahanan kolektif", NATO menginginkan agar jalan-jalan di negara anggotanya siap menghadapi mobilisasi cepat tank, artileri dan sejenisnya.

"Ini bukan hanya tentang komando. Kita juga perlu memastikan bahwa jalan dan jembatan cukup kuat untuk dilalui oleh kendaraan-kendaraan besar dan jaringan kereta memadai untuk penyebaran tank dan alat berat dengan cepat," ujar Stoltenberg.

"NATO memiliki kebutuhan militer akan infrastruktur sipil dan kita perlu memperbarui ini demi memastikan bahwa keperluan ini diperhitungkan," imbuhnya.

NATO berharap pemerintah nasional dan sektor swasta akan bekerja sama untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan dan ia menekankan bahwa Uni Eropa memiliki peran penting untuk dimainkan.

1 of 2

Komando Atlantik

Sementara itu, Sekjen NATO Jens Stoltenberg menerangkan bahwa Komando Atlantik yang diusulkan diyakini kelak akan memperkuat kemampuan untuk melindungi jalur laut yang sangat penting bagi aliansi transatlantik.

"Kita harus mampu memindahkan kekuatan, pasukan, melintasi Atlantik dari Amerika Utara ke Eropa. Dan itu mencakup sebuah komando yang fokus dan bertanggung jawab atas pergerakan pasukan di Eropa," tutur Stoltenberg.

NATO saat ini memiliki tujuh komando dengan total 7 ribu personel. Stoltenberg berpendapat bahwa struktur baru dibutuhkan untuk menyesuaikan diri dengan realitas yang dihadapi NATO saat ini.

"Kami sangat fokus pada ekspedisi militer di luar wilayah, namun pada saat bersamaan kami juga fokus pada pertahanan kolektif di Eropa dan itulah sebabnya mengapa kami mengadopsi struktur komando," terang sang Sekjen NATO.

Selain itu, Stoltenberg juga menyatakan harapannya terkait kemungkinan integrasi ke domain siber. "Dalam setiap operasi militer, misi militer atau operasi NATO, akan ada komponen siber, jadi siber akan lebih dan lebih terintegrasi ke dalam semua hal yang kita lakukan. Oleh karena itu kita akan membahas bagaimana kita memperkuat elemen ini."

Rusia belum mengomentari terkait hal yang menjadi fokus NATO tersebut. Bagaimanapun, Moskow telah berulang kali menyuarakan keprihatinan mengenai penumpukan pasukan NATO di perbatasan Rusia yang telah meningkat pasca-krisis Ukraina.

Lanjutkan Membaca ↓