Menlu Kuba Tuding AS Berbohong soal Serangan Sonik

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 04 Nov 2017, 14:01 WIB
Kedutaan AS di Kuba. (AFP)

Liputan6.com, Havana - Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez menuduh pemerintah Amerika Serikat dengan sengaja berbohong mengenai serangan sonik terhadap sejumlah diplomat AS di Havana.

Pada sebuah konferensi pers di Washington's National Press Club, Kamis 2 November, Menlu Kuba Bruno Rodriguez menyerukan agar pemerintahan Presiden AS Donald Trump mengungkapkan kebenaran atau mengajukan bukti terkait peristiwa itu. Demikian seperti dikutip dari VOA News, Sabtu (4/11/2017).

Rodriguez juga mempertanyakan keaslian sejumlah rekaman audio yang menjadi bukti bagi para penyelidik mengenai diplomat AS yang mengalami cedera akibat serangan sonik.

Ia mengatakan, "Bukan tidak mungkin rekaman-rekaman audio itu direkayasa."

Berbicara di Universitas Howard di Washington DC pekan lalu, Rodriguez mengatakan, tuduhan AS mengenai serangan sonik itu merupakan manipulasi politik dan sepenuhnya keliru. Ia mengatakan, tuduhan itu dimaksudkan untuk merusak hubungan bilateral.

Kuba mengatakan tidak memiliki teknologi untuk melakukan serangan itu.

Pernyataan Rodriguez itu merupakan bantahan terbaru para pejabat Kuba terhadap tuduhan Amerika Serikat mengenai insiden-insiden yang mempengaruhi kesehatan sedikitnya 24 pejabat kedutaan AS di Havana.

Para pejabat kedutaan AS itu dikabarkan mengalami berbagai masalah kesehatan, termasuk sakit kepala, gangguan pendengaran, dan gegar otak.

AS telah mengurangi jumlah stafnya di kedubesnya di Havana sekitar 60 persen sebagai tanggapan terhadap insiden itu. AS juga mengusir 17 diplomat Kuba dari kedutaan mereka di Washington.

Amerika Serikat juga mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warganya yang akan berpergian ke Kuba dan berhenti mengeluarkan visa bagi warga Kuba yang ingin bepergian ke AS.

1 of 2

16 Staf Kedutaan AS Jadi Korban Serangan Sonik

Sedikitnya, 16 pegawai Kedutaan Amerika Serikat di Kuba menderita gejala yang diduga disebabkan serangan sonik. Senjata sonik itu memicu mual, sakit kepala, dan gangguan pendengaran.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS, Heather Nauert, mengatakan bahwa beberapa di antara mereka membutuhkan perawat medis. Namun, serangan tersebut tampaknya saat ini telah berhenti.

Sementara itu, Kuba membantah telah menargetkan diplomat asing dan mengatakan sedang menyelidiki tuduhan tersebut.

Menurut laporan Associated Press, hilangnya kemampuan pendengaran para diplomat Amerika Serikat dapat dikaitkan dengan perangkat sonik yang mengeluarkan gelombang suara tak terdengar. Gelombang tersebut dapat menyebabkan hilangnya pendengaran.

"Kami dapat memastikan bahwa setidaknya 16 pegawai pemerintah AS, bagian dari komunitas kedutaan kami, telah mengalami sejumlah gejala," ujar Nauert seperti dikutip dari BBC.

"Kami menangani situasi itu dengan sangat serius," imbuh dia.

Adanya gejala serangan sonik itu telah dirasakan mulai akhir tahun lalu. Tak hanya staf kedutaan AS, setidaknya seorang staf Kedutaan Kanada juga terkena dampaknya.

Menteri Luar Negeri As, Rex Tillerson, menggambarkan insiden tersebut sebagai 'serangan kesehatan'.

Insiden tersebut terus berlanjut bahkan setelah staf AS mengeluhkan apa yang mereka rasakan dan pihak berwenang Kuba menyelidiki penyebab tersebut.

Lanjutkan Membaca ↓