Alasan Pemuda Jepang 'Ogah' Berhubungan Seksual

Oleh Citra Dewi pada 11 Jul 2017, 21:00 WIB
Ilustrasi masyarakat Jepang

Liputan6.com, Tokyo - Sebuah survei pemerintah Jepang yang dilakukan kepada generasi milenial menunjukkan hasil bahwa 42 persen pria dan 44,2 persen wanita lajang yang berusia antara 18 hingga 34 tahun belum pernah berhubungan seks.

Sementara itu 64 persen di kelompok umur yang sama, sedang tidak menjalin sebuah hubungan spesial.

Dikutip dari Asia One, Selasa (11/7/2018), ada beberapa penyebab yang membuat masyarakat Jepang memilih tak melakukan hubungan seksual.

Salah seorang pria Jepang, Ano Matsui, memberikan alasan mengapa sebuah hubungan spesial bukan menjadi salah satu tujuannya saat ini. Pria berusia 26 tahun itu, pernah ditolak oleh seorang wanita.

Ia mengatakan, laki-laki sepertinya menganggap perempuan sebagai sosok yang 'menakutkan'. Ia juga lebih memilih menghabiskan waktunya untuk menjalankan hobinya seperti menonton anime.

"Aku membenci diriku, tapi aku tak bisa melakukan apa pun untuk itu," ujar Matsui.

Sementara itu seorang perempuan berusia 24 tahun, Anna, mengaku senang dengan status lajangnya sekarang. Ia meyakini bahwa memiliki kekasih justru akan membatasi kebebasannya.

"Ketika aku kuliah, aku mendapatkan kebebasan dari orangtuaku. Akhirnya aku dapat begadang dan minum-minum dengan teman-teman," ujar Anna.

"Seorang kekasih hanya akan membatasi kebebasanku. Aku tak menginginkan itu," kata Anna yang menambahkan bahwa dirinya lebih memilih tidur dan makan di banding beruhubungan seks.

Ilustrasi (AFP)

Seorang seniman berusia 45 tahun, Rokudenashiko, mengatakan bahwa baginya seks dalam sebuah hubungan merupakan sebuah hal yang penting. Namun ia mengaku, laki-laki menganggap terlalu banyak usaha yang harus dikeluarkan untuk berhubungan badam.

Karena itu, ia memilih pelarian dengan menonton pornografi.

Meski Jepang dikenal akan industri seks komersialnya, namun budaya tradisional Jepang menganggapnya sebagai hal yang tabu.

"Banyak dari kita tak bisa mengungkapkan perasaan yang sebenarnya. Itu lah budaya kita, menyembunyikan perasaan yang sebenarnya," ujar seorang perempuan dalam saluran situs berbagi video 'Find Your Love in Japan' pada Mei silam.

Sementara itu seorang profesor diplomasi publik dari Kyoto University of Foreign Studies, Nancy Snow, mengatakan kepada CNN bahwa perubahan norma sosial dan ekonomi berkontribusi pada menurunnya hubungan antara pria dengan wanita.

"Beberapa identitas personal pria terikat dengan gaji, dan mereka merasa terancam dengan wanita yang berkuasa atas dirinya sendiri," ujar Snow.

Snow menjelaskan bahwa berkurangnya pendapatan membuat pria di Jepang merasa kurang percaya diri dalam menarik perhatian wanita, di mana kaum hawa di negara tersebut banyak yang telah sukses dan memperoleh pendapatan sendiri serta memprioritaskan dirinya.

Terdapat juga laporan dari Business Insider yang mengungkap bahwa pernikahan di Jepang 'mandek' karena panjangnya jam kerja. Menurut laporan tersebut, orang Jepang bekerja 10 hingga 12 jam sehari. Berbeda dengan negara berkembang lain di mana penduduknya rata-rata bekerja delapan jam per hari.