KBRI Kabul Gelar Konferensi Tahunan Nahdhatul Ulama Afghanistan

Oleh Tanti Yulianingsih pada 20 Mei 2017, 06:48 WIB
Konferensi Tahunan Nahdhatul Ulama Afghanistan (NUA) ke-6 di Kabul, Afghanistan pada 15-16 Mei 2017. (Dokumentasi Kemlu)

Liputan6.com, Kabul - Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kabul, Afghanistan, dan Noor Educational and Capacity Development Organization (NECDO) menyelenggarakan Konferensi Tahunan Nahdhatul Ulama Afghanistan (NUA) ke-6 di Kabul, Afghanistan pada 15-16 Mei 2017.

Konferensi tahun ini bertemakan "Role of Ulama in Durable Peace, Development, Respect of Human Rights, and Love to Humanity".

Kegiatan dihadiri oleh lebih dari 150 Ulama dari berbagai provinsi di Afghanistan seperti Kabul, Ghazni, Maydan Wardak, Panjshir, Nangarhar, Herat, Logar, Paktia, Laghman, Kunar, Kandahar, Parwan, Takhar, Khost, Zabul, Balkh, Kunduz, Baghlan, Samangan, dan Ghor. Selain itu, sekitar 50 perempuan dari berbagai kalangan juga turut berpartisipasi aktif dalam kegiatan yang telah diselenggarakan sejak tahun 2011.

Penyelenggaraan konferensi bertujuan menyebarkan pesan-pesan Islam yang moderat, adil, toleran, anti-ekstremisme dan seimbang guna menangkal paham ekstremisme dan terorisme. Hal tersebut dinilai penting dalam menciptakan perdamaian dan stabilitas di Afghanistan khususnya, dan di seluruh kawasan pada umumnya.

Seperti diberitakan Kemlu.go.id yang dikutip Sabtu (19/5/2017), konferensi itu menghadirkan sejumlah narasumber yang kompeten di bidangnya masing-masing dan membahas topik-topik seperti Persatuan antar Ulama, Peran Perempuan Muslim dalam Perdamaian, Islam Moderat, Keadilan Sosial dalam Masyarakat Islam, dan Peningkatan Penghargaan terhadap Hak Asasi Manusia di Komunitas Muslim, khususnya di kawasan konflik.

Gelaran tersebut juga menghadirkan 2 pembicara asal Indonesia yang membahas tentang peran Ulama di Indonesia, dalam Perdamaian dan Kesatuan bangsa serta tantangan-tantangan yang dihadapi dalam masyarakat Muslim dan bagaimana menghadapinya.

Perwakilan NUA dari tiap-tiap provinsi juga bertukar pikiran dan berbagi pengalaman, terkait dengan upaya penyebaran nilai-nilai Islam yang moderat dalam mendorong Perdamaian dan Rekonsiliasi di Afghanistan. Upaya tersebut didasari oleh prinsip-prinsip utama seperti Moderat (Attawasot), Keadilan (Al-Adalah), Seimbang (Attawazon), Toleransi, (Attasamoh), dan Partisipasi (Al-Musharaka).

​Pada hari kedua konferensi juga dilakukan seleksi Kepemimpinan NUA yang baru untuk periode 2017-2018. Pemilihan dilakukan dengan sistem voting di mana terdapat 4 (empat) kandidat dari provinsi berbeda yang mencalonkan diri.

Hasil pemungutan suara oleh para peserta Konferensi berjalan dengan sangat lancar dan memenangkan kembali Ketua NUA Petahana, Sayed Salahuddin Hashemi, sebagai Ketua NUA untuk periode 2017–2018. Seluruh peserta konferensi berharap bahwa kepemimpinan baru NUA tersebut akan membawa semangat baru bagi pergerakan organisasi tersebut ke depan, dalam menciptakan Perdamaian dan Rekonsiliasi di Afghanistan.