7 Ulah Egois Penumpang Kapal Titanic di Malam Nahas

Oleh Elin Yunita Kristanti pada 19 Mei 2017, 18:00 WIB
Rekaan Detik-detik Tenggelamnya HMS Titanic

Liputan6.com, Jakarta - Kapal Titanic yang karam Minggu malam 14 April 1912 melepas 'topeng' manusia-manusia di dalamnya, menguak sifat asli dan kesejatian mereka.

Kala itu, anak-anak dan perempuan diprioritaskan masuk ke dalam sekoci. Sejumlah pria dewasa menunggu giliran, berdiri sambil mengisap rokok terakhir, serta mengucapkan salam perpisahan pada orang-orang tercinta.

Kisah-kisah heroik bermunculan dari dek kapal Titanic yang miring. Kelompok musik memainkan instrumen mereka untuk menghibur para penumpang hingga saat-saat terakhir. Jasad-jasad mereka ditemukan masih mengenakan jaket pelampung.

Demikian juga dengan seorang pendeta. Dua kali ia diminta naik ke sekoci, namun pemuka agama itu menolak. Ia memilih tinggal, berdoa bersama para penumpang, dan menerima pengakuan dosa mereka.

Sementara, kapten Titanic Edward Smith juga memilih tinggal bersama kapalnya yang karam.

Sejarah juga mencatat aksi heroik para miliarder -- yang menghayati prinsip noblesse oblige -- bahwa kekuasaan dan kehormatan mendatangkan tanggung jawab.

Ida dan Isidor Straus memilih tinggal di Titanic. Pasangan tersebut kali terakhir terlihat di dek dalam kondisi saling berpegangan tangan.

"Aku tak akan berpisah dari suamiku. Kami akan hidup atau mati bersama," kata perempuan itu.

John Jacob Astor, yang konon orang terkaya di dunia saat itu, mendudukkan istrinya ke sekoci, lalu melambaikan tangan perpisahan pada perempuan yang ia cintai.

Madeleine Astor dan suaminya John Jacob Astor menjadi penumpang Titanic (Wikipedia)

Pun dengan Benjamin Guggenheim. Ia menolak naik sekoci, meski dengan uangnya, ia berpotensi melakukannya.

"Tak ada perempuan yang boleh ditinggalkan di atas kapal ini hanya karena Ben Guggenheim seorang yang pengecut," kata dia, seperti dituturkan saksi mata.

Namun, tak semua orang di Titanic punya keberanian sebesar itu. Sebagian besar terbukti pengecut dan egois.

Nyatanya, seperti dikutip dari situs The Richest, Jumat (19/5/2017), sebagian dari mereka yang ada di Titanic hanya peduli pada satu orang: diri sendiri.

Berikut 7 aksi egois dan pengecut para penumpang Titanic di malam nahas:

1 of 8

1. Bruce J Ismay

Bruce Ismay adalah pebisnis Inggris sekaligus presiden White Star -- perusahaan pemilik Titanic. Ia kerap menyertai pelayaran perdana bahtera-bahtera milik raksasa perkapalan itu.

Dia adalah pejabat tertinggi White Star yang bertahan hidup dalam insiden tenggelamnya Titanic.

Ismay menaiki salah satu sekoci terakhir yang tersedia pada malam nahas itu. Pria itu bahkan membuang muka dari Titanic yang perlahan tenggelam di lautan beku.

Di Carpathia -- kapal yang menyelamatkan mereka yang berada dalam sekoci Titanic -- Ismay dilaporkan meminta sebuah kabin pribadi dan menghabiskan sebagian besar waktunya di bawah pengaruh opium.

Karena ulahnya itu, ia dijuluki 'Coward of the Titanic' dan 'J. Brute Ismay'.

Bruce Ismay, korban selamat Titanic (Wikipedia)

Apalagi, konon, dia yang minta agar kapten mempercepat laju Titanic, agar tiba lebih awal di New York demi publikasi. Ismay juga sosok yang dianggap bertanggung jawab mengurangi jumlah sekoci di kapal nahas itu -- yang harusnya 48 menjadi hanya 20.

Fakta bahwa ia bertahan hidup, membuat Ismay jadi bulan-bulanan media -- terutama sindikasi surat kabar Hearst milik William Randolph Hearst, yang sudah lama berseteru dengannya.

Media mempublikasikan nama-nama mereka yang tewas, namun kolom untuk mereka yang selamat hanya ada satu nama: Ismay.

Seperti dilaporkan media kala itu, beberapa saksi mata mengungkap, Ismay melompat ke sekoci pertama, lainnya mengaku ia memerintahkan kru kapal untuk membawanya pergi.

Sementara tukang cukur di Titanic mengatakan, Ismay diperintahkan masuk ke sekoci oleh petugas.

Sementara, Lord Mersey, yang memimpin laporan penyelidikan kecelakaan Titanic menyimpulkan, Ismay membantu sejumlah penumpang lain sebelum masuk ke sekoci terakhir yang meninggalkan sisi samping Titanic. "Jika ia tak melompat, namanya akan menambah daftar mereka yang tewas," kata Mersey.

Ismay sendiri tak pernah bisa mengatasi rasa malu atas tindakannya melompat ke dalam sekoci. Ia mengajukan pensiun dari White Star Line pada 1913, dengan perasaan dan reputasi hancur.

Frances Wilson, penulis How to Survive the Titanic: The Sinking of J Bruce Ismay mengaku bersimpati pada Ismay. Melihatnya sebagai 'orang biasa yang terperangkap dalam situasi luar biasa'.

2 of 8

2. Menyamar Sebagai Wanita

Kebanyakan pria yang selamat dari tragedi Titanic mendapat julukan pengecut. Rumor pun menyebar, bahwa mereka naik sekoci dengan mengenakan pakaian wanita.

Namun, hanya satu orang yang dilaporkan benar-benar tertangkap mengenakan busana perempuan. Namanya, Daniel Buckley.

Buckley mengaku, pada malam nahas itu, ia sedang berada di geladak. Matanya menyaksikan sejumlah pria melompat ke sekoci -- yang hanya diperuntukkan bagi perempuan dan anak-anak.

Dia memutuskan untuk mengikuti contoh mereka dan masuk ke sekoci.

Daniel Buckley (Wikipedia)

Tiba-tiba, dua petugas muncul, mengusir para pria untuk meninggalkan sekoci.

Namun, menurut Buckley, enam laki-laki nekat tetap tinggal, menolak meninggalkan sekoci.

Kala itu, Buckley mengaku didera ketakutan, ia mulai menangis dan seorang wanita yang kasihan, meletakkan selendang di atas kepalanya. Diduga perempuan itu adalah Madeleine Astor.

Petugas akhirnya mengusir enam pria yang nekat berada dalam sekoci, mendorong mereka dan melepaskan tembakan peringatan.

Para pria pun kocar-kacir, namun Buckley tetap berada di sekoci. Keberadaannya tak disadari.

Awalnya, Daniel Buckley adalah pemuda ambisius dan giat yang ingin pergi ke Amerika untuk mencari uang.

"Saya naik ke Titanic karena dia adalah kapal uap baru," kata dia kepada Senator AS William Alden Smith, seperti dikutip dari Irish Central.

Namun, keberuntungan Daniel Buckley hanya bertahan enam tahun.

Ia tewas pada 1918, sebulan sebelum berakhirnya Perang Dunia I, saat membantu evakuasi Pasukan Ekspedisi Amerika yang terluka dari garis depan di perbatasan Prancis dan Belgia.

3 of 8

3. Pria Jepang Masabumi Hosono

Masabumi Hosono adalah pegawai negeri sipil Jepang. Ia bekerja di Kementerian Transportasi Negeri Sakura.

Suatu hari, ia ditugaskan untuk studi ke Kekaisaran Rusia untuk mencari tahu tentang sistem perkeretaapian di sana.

Masabumi Hosono (Wikipedia)

Dalam perjalanan pulang, ia naik Titanic, sebagai penumpang kelas dua. Kisahnya bisa selamat dari tragedi Titanic bak 'keajaiban'.

Ketika kapal mulai tenggelam, Hosono dihalangi oleh para awak kapal. Ia yang berwajah asing dikira sebagai penumpang kelas tiga dilarang mendekati geladak.

Meski demikian, pria Jepang itu berhasil mencapai dek dan menyaksikan dengan ngeri saat sekoci-sekoci terakhir meninggalkan Titanic yang nyaris tenggelam.

Awalnya, sebagai orang Jepang, dia tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri dengan masuk ke sekoci berisi wanita dan anak-anak.

Namun, saat awak kapal dari salah satu perahu penyelamat berteriak, "masih ada ruang untuk dua orang lagi!"

Hosono mengaku melihat seorang pria melompat masuk, dia pun melakukan hal yang sama.

"Pikiran saya tertuju pada istri dan anak-anak, saya mungkin tidak akan lagi melihat mereka," demikian pengakuan Hosono.

"Apa yang dilakukan orang pertama yang melompat ke sekoci terakhir, membuat saya berpikir untuk mengambil kesempatan terakhir itu."

Ia kemudian melompat masuk ke dalam sekoci yang berisikan perempuan dan anak-anak.

Di Amerika Serikat, Hosono dipandang sebagai sosok yang memalukan. Banyak yang beranggapan bahwa dia menyamar sebagai wanita untuk naik ke sekoci.

Di Tanah Airnya, Jepang, dia dikutuk sebagai pengecut dan kehilangan pekerjaannya.

Bahkan, konon, buku pelajaran di sekolah menggunakan Hosono sebagai contoh 'seorang manusia yang tidak terhormat'.

Sejumlah warga Jepang saat itu menganjurkannya untuk melakukan harakiri untuk menyelamatkan kehormatannya. 

Hosono tak memilih bunuh diri. Namun, jika waktu bisa diputar ulang kembali, ia memilih mati di Titanic. 

4 of 8

4. Hanya 1 Sekoci yang Sudi Berbalik

Pada awalnya sekoci yang meninggalkan Titanic dalam kondisi setengah kosong. Penyebabnya, banyak orang yang menolak untuk meninggalkan bahtera itu -- mereka tak sadar bahaya segera menjelang.

Sekoci pertama yang diturunkan, misalnya, hanya berisi 28 orang, padahal kapasitasnya 65 orang. Perahu penyelamat lain juga setengahnya kosong.

Bahkan ada sekoci yang hanya diisi 12 orang. Tujuh di antaranya adalah awak kapal.

Sir Cosmo Duff-Gordon dan istrinya Lady Lucy Duff-Gordon ada di antara mereka. Rumor menyebut, ia membayar masing-masing awak 5 pound sterling -- untuk tak berbalik dan mendayung sekoci sejauh mungkin.

Karenanya, sekoci yang dinaiki Sir Cosmo mendapat julukan 'money boat'.

Penumpang Titanic yang selamat berada di dalam sekoci (National Archive)

Kembali ke Titanic, ketika orang-orang sadar kapal segera karam, jumlah sekoci yang tersedia jauh dari cukup.

Namun, dari sekian banyak sekoci dengan ruang kosong, hanya satu di antaranya yang kembali untuk menyelamatkan nyawa orang-orang dari lautan beku.

Di dekat puing-puing kapal, sekoci yang berbalik arah disambut jasad-jasad manusia yang mengapung. Hanya sedikit yang berhasil diselamatkan setelah terpelanting dari Titanic -- dari kelas pertama hingga tiga.

Ada alasan mengapa sekoci-sekoci itu tak mau berbalik. Orang-orang yang ada di dalamnya khawatir, penumpang yang mengambang di air, akan berebut masuk ke perahu itu -- memicu kekacauan dan lebih banyak kematian. 

Mereka bahkan tega mengusir para korban yang berpegangan di pinggir sekoci, menghalaunya dengan dayung.

Sebanyak 20 sekoci di Titanic sebenarnya bisa menampung 1.178 orang atau sekitar sepertiga dari mereka yang ada di dalam kapal besar itu.

Namun, total, ada 472 ruang sekoci yang kosong. 

5 of 8

5. Kedok Handuk di Kepala

Edward Ryan naik Titanic dari Queenstown sebagai penumpang kelas tiga.

Pada malam tenggelamnya Titanic, Ryan berhasil menaiki sekoci dengan mengenakan handuk di atas kepalanya.

Ia bahkan tak malu memberitahukan soal itu pada orang tuanya, lewat surat tertanggal 6 Mei 1912.

"Aku berdiri di Titanic, mencoba tetap tenang, meski ia tenggelam dengan cepat. Kapal itu sudah karam sekitar 40 kaki (12 meter). Sekoci terakhir sedang diturunkan.

Kemudian terbesit dalam pikiranku, aku bakal lolos dari maut jika ada di sana. Ada handuk melingkari leherku, aku pun memakainya di kepala," demikian petikan isi surat Ryan.

Korban selamat kapal Titanic menggunakan sekoci menuju Carpathia (Library of Congress)

"Waktu itu, aku memakai mantel tahan air. Perlahan, aku berjalan melewati petugas -- yang sebelumnya memberi peringatan bahwa mereka bakal menembak pria yang berani mendekat. Mereka tidak memperhatikanku, mengira aku adalah perempuan."

Kepada orangtuanya, Ryan mengaku mengangkat seorang gadis cilik yang sedang berdiri dalam keputusasaan, menggendongnya, lalu melompat ke sekoci.

Edward Ryan mungkin adalah orang yang dihajar awak Titanic, Harold Godfrey Lowe saat sekoci dikosongkan.

Kala itu, Titanic sudah tenggelam. Sang awak marah bukan kepalang saat menemukan seorang penumpang pria yang segar bugar berada di sekoci.

6 of 8

6. Aksi Tega Awak Titanic

Tak hanya para penumpang yang berubah jadi egois demi mencari selamat.

Sejumlah awak Titanic juga mendadak jadi tega. Misalnya, Paul Mauge, petugas dapur di Restoran Ritz.

Ia melompat ke sekoci yang diturunkan. Yang hanya berisi perempuan dan anak-anak.

Sejumlah awak berusaha menarik Mauge keluar dari perahu penyelamat yang perlahan turun melewati dek demi dek.

Lembaran menu makan siang terakhir Titanic laku dengan harga Rp. 1,2 miliar di sebuah lelang.

Dalam pemeriksaan, Mauge mengaku meminta juru masak P. Rousseau untuk ikut melompat.

Namun, chef itu menolak. "Alasannya, ia terlalu gemuk," kata Mauge seperti dikutip dari situs Encyclopedia Titanica.

Kepada para penyelidik di Inggris, pria asal Prancis itu mengaku staf restoran dilarang mendekati dek oleh para awak kapal. 

Tak hanya itu, dua operator komunikasi, yang meninggalkan pos mereka hanya sepuluh menit sebelum Titanic tenggelam menyaksikan seorang juru api mencoba mencuri jaket penyelamat milik Harold Bride -- perwira komunikasi nirkabel junior.

Dua operator itu lalu memukul si juru api dan berlalu menuju dek.

7 of 8

7. 'Terpeleset' ke Sekoci Titanic

Dickinson Bishop adalah duda kaya raya berkat warisan saham Round Oak Stove Company dari mantan istrinya. Ia kemudian menikah lagi dengan Helen Walton.

Usai bulan madu selama empat bulan di Mesir, Italia, Prancis, dan Aljazair, mereka pulang dengan menaiki kapal Titanic.

Keduanya selamat dari tragedi itu, menaiki sekoci 7. Artikel yang memuat soal keselamatan dan rincian pengalaman mereka tampil di surat kabar. Pasangan itu pun akhirnya dimintai keterangan oleh Senat.

 

Dickinson Bishop (Wikipedia)

Beberapa teori menjelaskan bagaimana Bishop bisa berada dalam sekoci.

Sejumlah orang menyebut, ada yang mendorongnya ke sekoci. Yang lain mengatakan bahwa dia dengan suka rela melompat -- namun karena tak ingin dikira sebagai pengecut -- Bishop kemudian mengatakan bahwa dia tidak sengaja terpeleset dan naik ke perahu penyelamat.

Keterangan yang diberikan Bishop pun simpang siur. Awalnya, ia mengaku dibantu masuk ke dalam perahu, namun belakangan mengoreksi keterangan tersebut,  dengan mengatakan bahwa dia jatuh ke sekoci.

Beberapa tahun setelah tragedi Titanic, Dickinson menghadapi rumor yang menyebut, ia berpakaian perempuan demi bisa masuk ke sekoci.

Pasangan itu kemudian menghadapi berbagai macam cobaan lain: gempa bumi dan juga kecelakaan mobil yang serius di mana Helen tidak pernah pulih total.

Selain itu, anak yang dikandung Helen saat Titanic tenggelam, meninggal hanya dua hari setelah dilahirkan.

Dickinson dan Helen Bishop bercerai pada tahun 1916.

Helen meninggal pada 16 Maret 1916 dan Dickinson menikahi istri ketiganya pada 14 Maret 1916. Ironisnya kabar duka dan pengumuman pernikahan itu muncul di halaman koran yang sama.

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait