Ini Daftar Para Bangsawan yang Rela Tanggalkan Mahkota Demi Cinta

Oleh Khairisa Ferida pada 18 Mei 2017, 19:20 WIB
Putri Mako, cucu perempuan pertama Kaisar Akihito dan Permaisuri Michiko

Liputan6.com, Jakarta - Keluarga kerajaan dibentengi segala keeksklusifan, membuat mereka nyaris tak terjangkau dari hal-hal yang lazim terjadi di kalangan rakyat jelata.

Darah bangsawan membuat hidup mereka terikat aturan kerajaan sejak lahir, lalu ketika dewasa deretan tugas untuk mengabdikan hidup pada kerajaan menanti.

Fakta tersebut membuat anggota keluarga kerajaan tidak bisa sembarangan menentukan pilihan hidup, termasuk dalam urusan memilih pasangan. Kebanyakan pasrah dijodohkan, tapi tidak sedikit pula yang mengambil langkah mengejutkan dengan melawan aturan.

Status sebagai keturunan raja tidak membuat mereka kebal dari hukum sebab-akibat. Melawan arus berarti harus siap menanggung risiko.

Itu pula yang terjadi pada beberapa anggota keluarga kerajaan dari sejumlah negara. Mereka memilih untuk menentukan pasangan hidupnya sendiri, menentang perjodohan, dan semua itu harus dibayar dengan melepas gelar kebangsawanan.

Seperti Liputan6.com kutip dari berbagai sumber, berikut sejumlah anggota keluarga kerajaan yang rela meletakkan mahkota demi menikahi orang dari kalangan biasa:

1 of 3

1. George VIII

Pada 10 Desember 1936, publik Inggris gempar. Edward VIII dari Inggris yang belum genap satu tahun dimahkotai memutuskan turun takhta.

Ia melakukannya demi Wallis Warfield Simpson, perempuan yang berhasil merebut hatinya.

Dalam surat pengunduran dirinya ia menuliskan, "Saya, Edward VIII, Raja Inggris...dengan ini menyatakan keputusan saya yang tak bisa dibatalkan, untuk meninggalkan takhta untuk diri saya sendiri dan juga untuk anak keturunan saya."

Surat tersebut ditandatanganinya pada Kamis pagi 10 Desember 1936 di hadapan saudara-saudara juga pengacaranya. Saat itu ia bahkan belum secara resmi dinobatkan sebagai raja.

Merespons hal tersebut, satu hari berikutnya, Parlemen Inggris dan House of Lords (Dewan Bangsawan) mengeluarkan 'Demise of the Crown' -- persetujuan akhir kekuasaan seorang raja, ratu, atau kaisar akibat meninggal dunia atau menyerahkan kekuasaan alias turun takhta.

"Langkah dramatis itu (untuk turun takhta) menjadi klimaks sepekan penuh ketegangan -- paling tegang yang pernah dialami Inggris sejak Perang Dunia I," demikian dilaporkan Canadian Press kala itu. "Cinta sang raja pada Wallis Warfield Simpson, perempuan kelahiran Amerika Serikat yang dua kali bercerai dengan suami sebelumnya, adalah alasan mengapa ia turun takhta.

Edward VIII turun takhta demi nikahi janda

Keputusan Edward VIII yang turun takhta karena wanita cukup mengejutkan. Pasalnya, di masa muda ia dikenal sebagai playboy.

Pertemuannya dengan Simpson terjadi pada Januari 1931. Awalnya sama sekali tidak ada rasa tetarik, namun setelah beberapa kali bertemu, benih-benih cinta pun tumbuh.

Perempuan asal AS itu bahkan sempat jadi kekasih gelapnya -- saat itu ia masih berstatus sebagai istri orang.

Saat Raja George V mangkat pada 20 Januari 1936, pria yang terlahir sebagai putra mahkota bernama Edward Albert Christian George Andrew Patrick David itu pun dinobatkan sebagai penguasa dari Wangsa Windsor.

Pada 1 Desember 1936, Edward VIII memberitahukan pada PM Inggris kala itu Stanley Baldwin bahwa ia berniat menikahi kekasihnya -- yang secara resmi telah bercerai pada 27 Oktober. Namun Baldwin menentang keras niatnya itu.

Geger tidak terelakkan. Kepala Gereja Inggris tak mengizinkan orang yang bercerai menikah lagi saat pasangannya masih hidup. Uskup Bradford dengan tegas mengeluarkan pernyataan menetang.

Sang raja tak menyerah, ia mengajukan "perkawinan morganatic" -- yang mengizinkan ia menikahi Simpson, namun istrinya itu tak bakal jadi ratu. Perdana Menteri menolaknya. Hingga akhirnya Edward VIII mundur -- sebuah momentum yang dianggap sebagai kemenangan konstitusi.

Pasca-turun takhta, Edward meninggalkan Britania Raya. Bersama perempuan yang dicintainya ia tinggal di sebuah vila di Cote d'Azur, Prancis.

Pasangan ini menikah pada 3 Juni 1937. Bergelar Duke dan Duchess of Windsor, keduanya hidup bersama hingga akhir hayat.

Edward meninggal dunia pada tahun 1972. Keduanya dimakamkan berdampingan di pemakaman kerajaan di Frogmore, Windsor.

2 of 3

2. Putri Mako

Publik Jepang dibuat terkejut dengan keputusan Putri Mako (25) yang memilih melepas gelar kebangsawanannya demi menikahi seorang pria biasa. Mako adalah anak sulung Pangeran Akishino--anak kedua Kaisar Akihito dan Permaisuri Michiko.

Pria yang berhasil mencuri hati Mako adalah Kei Komuro (25). Ia bekerja di sebuah firma hukum dan tengah menempuh pendidikan pascasarjana.

Kei cukup dikenal mengingat ia pernah tampil sebagai "Prince of the Sea" dalam sebuah iklan pariwisata pantai untuk mempromosikan Kota Fujisawa yang terletak di selatan Tokyo.

Seperti dilansir BBC, Kamis (18/5/2017) pertemuan pertama keduanya terjadi pada tahun 2012 di sebuah restoran. Saat itu mereka tengah menempuh pendidikan di universitas yang sama, International Christian University di Tokyo.

Kei Komuro (25), pria yang berhasil mencuri perhatian Putri Mako (Fumine Tsutabayashi/Kyodo News via AP)

Hukum kekaisaran Jepang mengharuskan seorang putri untuk melepas gelar kebangsawanannya setelah menikahi pria biasa. Dan kabar bahagia dari Putri Mako ini disebut-sebut akan kembali menghidupkan perdebatan lama tentang suksesi kerajaan.

Rumah Tangga Kekaisaran mengatakan kepada media lokal, pertunangan cucu perempuan pertama Kaisar Akihito tengah dalam proses persiapan.

"Pertunangan akan resmi setelah sebuah seremoni bertukar hadiah dilakukan," sebut media setempat.

Radio NHK memuat dalam laporannya, pernikahan Mako dan Kei akan berlangsung tahun depan.

Ketika kabar pertunangan ini meluas, pada Rabu waktu Tokyo, para awak media berkumpul di depan firma hukum di mana calon suami Putri Mako bekerja. Disinggung terkait rencana peresmian hubungannya dengan putri Jepang tersebut, Kei tidak banyak bicara. Ia hanya mengatakan, "Sekarang bukan saatnya untuk berkomentar, tapi saya akan bicara pada saat yang tepat."

Ternyata, peristiwa putri menikahi pria biasa tidak asing dalam sejarah kekaisaran Jepang terlebih pada era modern. Sebelum Mako, kisah serupa lebih dulu dijalani Putri Sayako.

Sayako merupakan putri satu-satunya Kaisar Akihito dan Permaisuri Michiko. Ia merupakan anak ketiga setelah Pangeran Naruhito dan Pangeran Akishino.

Putri Sayako memutuskan menikah dengan Yoshiki Kuroda, seorang perencana tata kota (AFP)

Pada tahun 2005, Sayako memutuskan menikah dengan Yoshiki Kuroda, seorang perencana tata kota untuk pemerintah kota Tokyo. Pernikahannya keduanya berlangsung sederhana.

Pasca-disunting orang biasa, Sayako harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru yang serba jauh lebih sederhana. Dari istana ia pindah ke apartemen dengan satu kamar tidur.

Keadaan mengharuskannya belajar menyetir, berbelanja di supermarket, hingga membeli perabotan sendiri.

Jika ditarik jauh ke belakang, sejumlah putri Jepang juga menempuh langkah yang sama dengan Sayako dan Mako.

Tiga putri dari Kaisar Hirohito, yaitu Taka, Yuri, dan Suga diketahui menikahi rakyat jelata. Adapun dua putri dari Pangeran Mikasa--saudara laki-laki Kaisar Hirohito--yakni Yasuko dan Masako pun rela melepas gelar kebangsawanannya.

Pada tahun 2014, Putri Noriko, anak dari Pangeran Takamado--putra Pangeran Mikasa-- dikabarkan menikah dengan Kunimaro Senge.

Kasus di mana seorang anggota keluarga kekaisaran menikahi orang biasa menjadi persoalan tersendiri di Negeri Sakura. Pasalnya, peristiwa tersebut membuat jumlah anggota keluarga kekaisaran menyusut dengan cepat.

Saat ini kekaisaran Jepang memiliki 19 anggota keluarga dan 14 di antaranya adalah wanita.

Hukum kekaisaran hanya memungkinkan takhta diwariskan kepada anak laki-laki, sementara itu hanya ada tiga putra yang tersisa. Pertama adalah Putra Mahkota Pangeran Naruhito, adik laki-lakinya Akishino, dan seorang lagi putra Akishino, Pangeran Hisahito.

Selain Putri Mako, ada enam putri lain yang saat ini belum menikah. Mereka juga akan kehilangan gelar kebangsawanan jika memilih menikahi orang biasa. Kemungkinan tersebut memicu kekhawatiran keluarga kekaisaran tidak memiliki cukup anggota untuk terus menjalankan tugas-tugas publik.

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait