Maut Mengintai di Balik Larangan Laptop di Kabin Pesawat?

Oleh Teddy Tri Setio Berty pada 18 Mei 2017, 14:00 WIB
Larangan membawa laptop (AFP)

Liputan6.com, London - Larangan laptop masuk kabin diberlakukan Amerika Serikat untuk pesawat yang berangkat atau transit di sejumlah negara. Belakangan, larangan tersebut direncanakan diberlakukan secara meluas.

Ta hanya komputer jinjing, tablet, kamera dan barang elektronik lainnya juga mungkin jadi benda terlarang dalam kabin pesawat penerbangan antarwilayah Eropa ke Amerika Serikat.

Menurut koresponden BBC Richard Westcott, beberapa orang yang ia wawancarai tidak tahu pasti kapan peraturan tersebut akan diberlakukan. Tetapi kebanyakan orang yakin hal itu akan segera terjadi.

Westcott juga menambahkan, pihak Amerika Serikat akan memberitahu kepada semua orang kapan larangan itu akan berlaku. Sedangkan pemerintah Eropa tidak terlalu banyak bicara dalam menanggapi pertanyaan kapan kebijakan akan dimulai. 

Jika larangan tersebut diberlakukan, Bandara Internasional Heathrow akan menjadi kerepotan. Tiga perempat penerbangan dari Inggris menuju AS berangkat dari bandara itu. Total, ada 761 pesawat dalam satu minggu, dan sejauh ini adalah penerbangan terbanyak dari daratan Eropa yang menuju AS. Demikian seperti dikutip dari BBC, Kamis (18/5/2017).

Kebijakan itu dibuat karena kekhawatiran serangan teroris di dalam pesawat. Para ahli terorisme mendapatkan informasi militan makin cerdas dengan meletakkan bom dalam laptop dan perangkat barang elektronik lainnya yang mereka bawa ke dalam burung besi. 

Namun, sejumlah ahli penerbangan mengatakan, ada bahaya lain mengintai yang jauh lebih berbahaya di bandingkan masalah teror bom dalam pesawat terbang. Yaitu, munculnya percikan api. 

Dalam beberapa kasus percikan api dalam penerbangan disebabkan oleh baterai pada benda elektronik yang mengandung lithium-ion. Bahkan efeknya dapat menjatuhkan pesawat terbang.

Kapten John Cox, mantan pilot dan anggota Royal Aeronautical Society yang ditemui oleh Westcott mengatakan bahwa ia telah mempelajari hal tersebut lebih dari satu dekade. Saat ini Cox sedang melakukan aktivitas mengelilingi dunia guna menasihati para operator, produsen dan pihak regulator penerbangan.

"Memasukkan perangkat elektronik bersama benda lain ke dalam kargo pesawat adalah langkah buruk," ujar Cox.

"Beberapa perangkat elektronik yang dimasukkan secara bersama-sama ke dalam kargo akan meningkatkan suhu dalam pesawat. Pada dasarnya pesawat memang memiliki alat pemadam kebakaran dan oksigen -- namun terbatas--. Dan hal tersebut tidak akan membantu jika ledakan sudah terjadi akibat baterai lithium," lanjut Cox

Cox juga mengatakan bahwa perangkat pemadam api yang ada di pesawat hanya bisa memadamkan api dalam ruang terbuka. Sementara itu, jika baterai lithium terbakar, tak mudah memadamkannya. 

Satu-satunya langkah yang bisa diambil adalah memasukkan baterai lithium yang terbakar ke dalam air atau menutupnya dengan handuk basah. Tapi hal tersebut sulit dilakukan dilakukan dalam boks tertutup yang diletakkan dalam kargo pesawat. 

Ahli keamanan penerbangan dari British Airline Pilot Association, Steve Landells senada dengan Kapten Cox.

"Jika insiden kebakaran perangkat elektronik terjadi di dalam kabin, pihak awak pesawat akan jauh lebih mudah mendeteksi adanya potensi ledakan. Beda halnya jika perangkat elektronik berada di tempat khusus di kargo, jauh lebih sulit diantisipasi jika sampai terjadi ledakan.  Tentunya bisa mengakibatkan kecelakaan pesawat," ujar Landells.

Kapten John Cox mengatakan, menyeimbangkan berbagai risiko adalah sesuatu hal yang sulit dan membutuhkan pertimbangan dari berbagai ahli. Seiring dengan banyaknya orang yang terlibat dalam industri ini, Cox yakin kebijakan larangan laptop dalam kabin sejatinya tak harus diterapkan.

Cox memprediksi pihak Departemen Keamanan Dalam Negeri AS tetap akan dengan keputusannya tanpa melibatkan para ahli keselamatan di US Federation Aviation Administration.

Pada dasarnya, penumpang tak akan ragu mendukung kebijakan itu jika terkait dengan keselamatan mereka. Namun, para ahli sepakat, bahwa larangan laptop justru membuat penerbangan jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan ancaman terorisme itu sendiri...