Grup yang Mengklaim Hacker WannaCry Ancam Buka Data Nuklir Korut

Oleh Alexander Lumbantobing pada 18 Mei 2017, 11:06 WIB
Ilustrasi Ransomware WannaCrypt atau Wannacry

Liputan6.com, Pyongyang - Sekelompok peretas (hacker) mengklaim bahwa mereka bertanggung jawab atas serangan siber ransonware WannaCry yang merebak di seluruh dunia mulai pada Jumat pekan lalu.

Baru-baru ini, kelompok tersebut membuat pernyataan bahwa mereka akan segera membeberkan data terkait dengan program nuklir dan rudal Korea Utara.

Kelompok itu bernama Shadow Brokers. Mereka membuat pernyataan tersebut di sebuah blog. Selain mengancam beberkan data program nuklir Korut, mereka akan membeberkan informasi serupa terkait persenjataan Rusia, China, dan Iran.

Seperti dikutip dari UPI, Kamis (18/5/2017), pengumuman yang terbit pada Selasa lalu menambah kisruh dalam kisah serangan siber global itu. Sebelumnya, Kaspersky Labs dari Rusia menuding keterlibatan Korea Utara.

Dalam bahasa Inggris yang kurang cermat, kelompok itu mengatakan bahwa para pengguna yang penasaran akan data nuklir Korut dapat melakukan akses data melalui langganan berbayar bulanan.

Demikian bunyinya, "Setiap bulan, orang dapat membayar iuran keanggotaan, kemudian mendapatkan limpahan data khusus untuk anggota. Apa yang dilakukan pelanggan dengan data itu adalah urusan masing-masing anggota."

Sebelum ini, suatu laporan CNN menyebutkan bahwa versi awal kode WannaCry serupa dengan kode backdoor yang diciptakan oleh peretas yang terhubung dengan pemerintah Korut, Lazarus Group. Zona waktu dalam kode WannaCry itu pun disetel ke UTC +9, di mana Korea Utara termasuk ke dalamnya.

Seorang pria melihat laporan berita tentang rudal Korea Utara, di sebuah stasiun kereta di Seoul, Korea Selatan. Pemimpin Korut, Kim Jong-Un memerintahkan pasukannya menyiagakan senjata nuklir untuk bisa digunakan kapan saja. (AFP PHOTO/Jung YEON-JE)

Pihak Korut telah menerbitkan pernyataan terkait serangan ransomware WannaCry. Harian Rodong Sinmun yang menjadi corong Partai Pekerja menyebutkan, Rabu lalu, bahwa virus WannaCry mengundang keprihatinan serius masyarakat internasional. Akan tetapi, mereka tidak menanggapi apa pun tentang tudingan keterlibatan Korea Utara.

Harian yang berada di bawah kendali pemerintah menyatakan, serangan siber itu dilancarkan pada banyak lembaga publik dan bisnis di lebih dari 150 negara, termasuk Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Rusia, dan China.

"Suatu badan kepolisian Eropa mengatakan lebih dari 200 ribu komputer di seluruh dunia telah menjadi sasaran serangan siber."

Menurut layanan berita News 1 di Korea Selatan, angka serangan itu sekarang telah mendekati 300 ribu. Korea Selatan sendiri telah waspada sejak serangan dimulai pada Jumat lalu.

Sementara itu, para pakar keamanan siber (cybersecurity) mengatakan bahwa pembayaran "tebusan" bitcoin yang diminta agar file-file komputer kembali dibuka tidak menyebabkan pemulihan file-file komputer yang dimaksud.

Sejauh ini, menurut laporan tersebut, para penyerang telah meraup uang tebusan senilai US$ 70 ribu dari seluruh dunia.