Pembunuhan Kim Jong-nam dan Kasus Misterius 39 Tahun Lalu

Oleh Elin Yunita Kristanti pada 06 Mar 2017, 16:06 WIB
 Kim Jong-nam

Liputan6.com, Kim Jong-nam tewas 20 menit setelah diserang dengan cairan di Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA2), Senin, 13 Februari 2017. Napas penghabisan diembuskannya di dalam ambulans yang membawanya ke sebuah rumah sakit di Putrajaya.

Malaysia dan dunia pun dibuat geger. Kakak tiri penguasa Korea Utara Kim Jong-un itu diduga dihabisi menggunakan racun saraf VX nerve agent. Sejauh ini, aparat Negeri Jiran baru menangkap dua perempuan yang diduga sebagai eksekutor: Siti Aisyah dari Indonesia dan Doan Thi Huong asal Vietnam.

Kematian Kim Jong-nam yang mendadak menjadi duri dalam daging dalam hubungan Malaysia dan Korut. Kuala Lumpur bahkan terang-terangan mengusir Dubes Korea Utara, Kim Chol.

Namun, hingga saat ini, siapa dalang di balik pembunuhan Kim Jong-nam belum diketahui. Masih misterius.

Pembunuhan Kim Jong-nam mengingatkan kembali pada kasus yang sama misteriusnya pada 39 tahun lalu.

Kala itu, pada 20 Agustus 1978, lima perempuan muda, empat dari Malaysia dan satu lainnya dari Singapura, menghilang tanpa jejak.

Empat perempuan Malaysia diduga korban penculikan agen Korut (The Star)

Seperti dikutip dari Bernama, Senin (6/3/2017), mereka raib setelah mendapat undangan berpesta di atas kapal kargo yang berlabuh di Singapura.

Pengundangnya adalah seorang pria yang diduga berasal dari Jepang.

Empat perempuan Malaysia yang hilang tanpa jejak itu adalah Yeng Yoke Fun (22), Yap Me Leng (22), See Toh Tai Thim (19), dan Margaret Ong Guat Choo (19). Sementara wanita asal Singapura bernama Diana Ng Kum Yim (24).

Meski kedua insiden tersebut terpisah empat dekade lamanya, ada kesamaan yang mengikatnya: agen Korea Utara diyakini berada di balik apa yang menimpa mereka. Diduga penculikan itu atas titah pemimpin Pyongyang.

Direktur Association for the Rescue of North Korea Abductees (ARNKA) Tomoharu Ebihara mengatakan, kasus Kim Jong-nam bisa dijadikan momentum untuk membuka lagi kasus lawas tersebut.

"Kita harus kembali menginvestigasi kasus 1978 dan kami bersedia untuk membantu kerabat dari empat perempuan Malaysia untuk mencari informasi lebih lanjut," kata direktur Association for the Rescue of North Korea Abductees (ARNKA)Tomoharu Ebihara kepada Bernama.

Meski hanya sedikit informasi yang tersedia terkait penculikan 39 tahun lalu itu, Ebihara mengaku optimistis suatu ketika misteri tersebut akan terkuak.

Menurut Ebihara, informasi tentang kemungkinan adanya korban penculikan asal Malaysia di Korea Utara berasal dari kesaksian aktris Korea Selatan, Choi Eun-hee, dan mantan tentara Amerika Serikat, Charles Robert Jenkins.

Choi Eun-hee diculik di Hong Kong pada tahun 1978, sementara Jenkins meninggalkan unitnya dan menyeberangi perbatasan dua Korea atau Korean Demilitarized Zone pada 1965.

Jenkins tinggal di Korut, sempat tampil dalam sejumlah film, hingga akhirnya lari ke Jepang pada 2004.

"Menurut Jenkins, ia melihat foto Yoke Fun dan ingat pernah bertemu seorang wanita yang sama di sebuah taman hiburan di Pyongyang antara tahun 1980 dan 1981," kata Ebihara.

Eun-hee, yang tinggal di Pyongyang sampai 1986, mengaku mendengar dari seorang perempuan bahwa pasangan dari Malaysia tinggal di permukiman terpisah di ibukota Korut itu.

"Itulah satu-satunya informasi yang kita miliki tentang kemungkinan korban penculikan Malaysia," kata Ebihara, menambahkan bahwa informasi yang diberikan oleh Eun-hee dan Jenkins kredibel.

Menurut Ebihara, warga dari 12 negara -- termasuk Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Thailand, Yordania, Lebanon, Rumania, dan Prancis diduga diculik oleh agen Korea Utara.

Dia mengatakan organisasi non-pemerintah di Jepang yakin, sekitar 300 warga Negeri Sakura diculik oleh agen Korea Utara, meskipun penghitungan resmi yang diberikan oleh pemerintah menyebut 'hanya' 18 orang.

Ratusan warga Korea Selatan juga diduga diculik oleh agen Korea Utara.

"Para perempuan diculik untuk dijadikan istri atau pasangan pria-pria asing yang jadi korban penculikan," kata Ebihara, mengutip pernyataan Jenkins yang menikahi korban penculikan asal Jepang, Hitomi Soga.

Ebihara menambahkan, Jenkins juga menyebut soal korban penculikan asal Thailand, Panjoy.

Sementara, meski telah membebaskan warga Korea Utara Ri Jong-chol dalam kasus pembunuhan Kim Jong-nam, Malaysia terus melakukan penyelidikan atas kasus yang menyita perhatian dunia itu. Kecurigaan masih mengarah ke pihak Pyongyang.