Lapar Bikin Anda Cepat Marah?

Oleh Rara Mispawanti pada 02 Feb 2017, 06:54 WIB

Liputan6.com, London - Pernahkah Anda merasa lapar dan marah pada saat bersamaan? Kondisi tersebut dikenal dengan istilah hanger.

Fenomena ini disebabkan oleh melemahnya kadar gula darah di dalam tubuh manusia ketika lapar, sehingga emosi seseorang lebih mudah meningkat. Hal ini perlu diwaspadai, karena hanger berpengaruh buruk terhadap sebuah hubungan dan pekerjaan.

Seseorang yang mengalami kondisi marah saat lapar tersebut biasanya kesulitan untuk berkonsentrasi, atau bahkan kerap bertutur dan bertindak menyinggung orang-orang di sekitarnya.

Dilansir dari situs new scientist, Senin (30/1/2017), gula darah rendah juga memicu pelepasan hormon terkait stres seperti kortisol dan adrenalin, serta neuropeptide Y yang bisa memicu seseorang berperilaku lebih agresif terhadap orang-orang di sekitarnya.

Hilangnya ketiga hormon tersebut memiliki efek yang mengkhawatirkan. Sebab bisa membuat seseorang berprasangka terhadap orang lain, termasuk orang yang dicintai.

Uji Coba

Selaras dengan hal tersebut, terdapat sebuah studi klasik yang meminta pasangan yang telah menikah untuk meluapkan amarah mereka ke boneka voodoo yang diumpamakan sebagai pasangan mereka.

Para partisipan kemudian bertanding melawan pasangan mereka dalam sebuah permainan, di mana pemenangnya bisa meledakan suara yang keras melalui headphone dari peserta yang kalah. Kemudian, para peneliti melacak kadar glukosa darah di seluruh partisipan tersebut.

Saat tubuh memiliki kadar gula rendah, boneka voodoo akan lebih banyak ditusuk. Itu menunjukkan kondisi emosional seseorang yang tinggi.

Dalam kondisi hanger parah, perilaku seseorang dapat menjadi terlalu berlebihan.

Sementara itu, terdapat pula sebuah studi yang tidak kalah menarik terkait fenomena hanger itu. Studi beberapa tahun lalu itu menemukan bahwa semakin mendekati waktu makan siang, hakim cenderung mengatur hukuman yang ringan dalam putusannya.

Namun temuan dari studi ini tidak pernah direplikasi dan sudah ditemukan analisis terbaru oleh Andreas Glöckner di University of Hagen, Jerman. Ia memaparkan bahwa kalimat yang dilontarkan hakim mungkin semakin keras saat menjelang siang, karena hakim menjadwalkan kasus sederhana untuk kali ini.

Jika kasus cenderung lebih rumit dan panjang, maka itu membawa risiko memakan waktu istirahat makan siang mereka.

"Simulasi menunjukkan bahwa makan memiliki efek kausal langsung terhadap putusan yang menguntungkan, kira--kira 23 persen," kata Glockner.

Glockner juga menambahkan, bahwa sebenarnya belum diketahui secara pasti penyebab hakim bisa memberikan putusan-putusan yang sadis tanpa ada studi lebih lanjut. Namun satu hal yang tidak dianjurkan adalah jangan membuat keputusan penting pada saat perut kosong.

Tag Terkait