2 Faktor yang Mempercepat Mati Muda

Oleh Elin Yunita Kristanti pada 11 Mar 2015, 14:17 WIB

Liputan6.com, New York - Pada 4 Maret 2015 lalu, Misao Okawa berulang tahun ke-117. Nenek asal Jepang itu adalah manusia paling panjang umur di dunia saat ini.

Saat ditanya rahasia hidup melampaui usia seabad, Nenek Misao mengatakan, ada 2: "Makan sushi makarel dan tidur setidaknya 8 jam sehari."

Sementara, mereka yang masuk kategori "supercentenarians" atau berusia lebih dari 110 tahun di China mengaku, hidup dan berpikiran sederhana, murah hati, dan menjauhi stres adalah jadi faktor yang menjadikan mereka orang sepuh yang bahagia.

Penelitian terbaru yang dimuat dalam jurnal Circulation: Cardiovascular Quality and Outcomes edisi 10 Maret 2015 kemarin menyebut hal berkebalikan. Yakni, bahwa ada 2 faktor yang mengarah ke kematian di usia muda, terutama bagi penderita masalah jantung: stres dan depresi.

Orang-orang yang menjadi relawan studi, yang memiliki level stres dan depresi tinggi, memiliki potensi 48 persen tewas akibat serangan jantung selama proses penelitian, dibandingkan mereka yang memiliki kondisi berkebalikan.

Bagi orang-orang yang punya masalah jantung, menurut para peneliti, kombinasi stres dan depresi parah akan menciptakan 'badai psikososial yang sempurna'.

"Peningkatan risiko yang menyertai stres berat dan gejala depresi parah adalah kuat dan konsisten di seluruh demografi, riwayat medis, penggunaan obat dan perilaku berisiko kesehatan," kata penulis utama studi, Carmela Alcantara, ilmuwan riset dari Columbia University Medical Center di New York City, seperti dikutip dari situs sains LiveScience, Rabu (11/5/2015).

Penelitian tersebut melibatkan 5.000 orang dengan penyakit jantung koroner dan berusia 45 tahun. Para peserta membagi pengalaman gejala stres dan depresi yang mereka alami selama eksaminasi yang dilakukan di rumah mereka dan dalam kuesioner yang diberikan sejak tahun 2003 hingga 2007.

Misalnya, para peserta menjawab pertanyaan tentang seberapa sering mereka merasa kesepian, menangis seminggu belakangan.  Juga seberapa sering mereka merasa tak bisa mengontrol hal-hal penting dalam hidup mereka, atau merasa kewalahan selama sebulan belakangan.

Sekitar 6 persen atau 274 orang dalam studi dilaporkan memiliki tingkat stres dan depresi yang tinggi. Setelah 6 tahun, ada 1.337 kematian akibat serangan jantung di antara mereka yang terlibat dalam studi.

Para peneliti menggarisbawahi, '"masa kerentanan tinggi," di mana orang-orang dengan stres dan depresi yang intens berada pada peningkatan risiko kematian atau terkena serangan jantung berlangsung sekitar 2,5 tahun. Namun setelah itu, peningkatan risiko menghilang.

Para ilmuwan juga menemukan, orang yang hanya memiliki gejala stres tinggi atau gejala depresi tidak mengalami peningkatan risiko kematian atau serangan jantung.

Banyak program pengobatan melihat efek depresi pada penderita penyakit jantung, namun temuan baru menyarankan perhatian serupa juga sebaiknya ditujukan terhadap level stres seseorang. Intervensi psikologis dapat membantu orang dengan penyakit jantung untuk mengelola stres dan depresi. (Ein/Yus)

Tag Terkait