Seragam Dibandrol Seharga Rp 10 Juta, Sekolah Diprotes Orangtua Murid

Oleh Reza Sugiharto pada 14 Feb 2018, 18:00 WIB
Menyediakan Seragam yang Mahal, Sekolah Ini Diprotes Warga Jepang

Liputan6.com, Jakarta Sekolah adalah tempat untuk menimba ilmu. Di sekolah lah kita bisa mendapatkan pendidikan tentang ilmu pengetahuan. Seiring berkembangnya zaman, sekolah pun ikut berkembang menyesuaikan dengan keadaan. Namun di balik penyesuaian ini, tentu ada biaya lebih yang mesti dikeluarkan para orangtua murid.

Salah satu perkembangan yang dilakukan pihak sekolah yaitu mewajibkan murid untuk memakai seragam khusus khas sekolahnya. Jadi kebanyakan sekolah modern saat ini memiliki seragam khusus bagi murid mereka.

Adanya seragam khusus sekolah ini akhirnya membuat para orangtua membeli seragam tersebut untuk anaknya. Namun tidak dengan para orangtua murid yang bersekolah di Sekolah Dasar (SD) Taimei, Jepang. Mematok harga yang sangat tinggi membuat para orangtua murid marah dan memprotes SD tersebut.

 

 

1 of 3

Ginza Dikenal sebagai Distrik Paling Modis

Ginza dikenal sebagai distrik paling modis di ibu kota Jepang. Baru-baru ini pihak sekolah memutuskan bahwa murid mereka akan menggunakan seragam yang harganya 9,5 juta rupiah. Seragam ini menjadi mahal karena dibuat oleh salah satu label busana ternama yaitu Armani.

Keputusan sekolah untuk mengganti seragam lamanya tanpa berkonsultasi dengan orangtualah yang memicu kemarahan di seantero Jepang. Bahkan kejadian ini dibahas di Parlemen Jepang.

Sebelum adanya seragam yang dibuat Armani ini, seragam standar di SD Taimei menghabiskan biaya sekitar 3 juta rupiah. Namun dengan adanya seragam Armani para orangtua harus mengeluarkan biaya 9,5 juta rupiah, tiga kali lipat dari seragam lama.

Toshitsugu Wada selaku sebagai kepala sekolah pun mengirimkan surat ke para orangtua. Surat itu berisi penjelasan bahwa keputusannya dimaksudkan untuk memperkuat identitas sekolah sebagai "landmark Ginza".

 

2 of 3

Tetap Akan Memproduksi Seragam Armani

Adanya hal ini membuat para orangtua mengirim surat elektronik ke dewan pendidikan setempat atas keluhan mereka tentang biaya seragam desainer yang terlalu berlebihan.

Perlu diketahui menurut dewan pendidikan Ginza, seragam sekolah tidak diwajibkan. Namun jika ada murid yang memakainya akan dianggap lebih eksklusif, dan saat ini hampir semua siswa memakainya. Dengan demikian, banyak yang mengkritik keputusan Kepala Sekolah Wada untuk memilih opsi yang begitu mahal.

Terlepas dari semua kontroversi mengenai keputusannya, Toshitugu Wada dari Taimei mengatakan kepada kantor berita Jepang bahwa dia sudah membuat pilihan yang tepat. Wada pun mengatakan bahwa seragam lama tidak lagi diproduksi dan tetap meluncurkan seragam Armani.

"Saya membuat keputusan untuk masa depan SD Taimei," tulis Wada baru-baru ini di situs sekolah Taimei. "Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjelaskannya dengan benar agar semua paham," lanjutnya.

Lanjutkan Membaca ↓