SEA Games 2017 Ditentukan, 10 Cabor Unggulan Indonesia Ditolak

Oleh Risa Kosasih pada 22 Jul 2016, 23:10 WIB
SEA Games 2017

Liputan6.com, Kuala Lumpur - Menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia Khairy Jamaluddin Abu Bakar telah mengumumkan tanggal penyelenggaraan SEA Games 2017 dan Para ASEAN Games 2017. Ibukota Kuala Lumpur didaulat sebagai tuan rumah pesta olahraga dua tahunan antar negara se-Asia Tenggara ini.

Seperti yang dilansir dari Berita Harian, Jumat (22/7/2016) petang, SEA Games ke-39 akan dihelat pada 19 hingga 31 Agustus. Menpora Khairy Jamaluddin mengatakan, Malaysia berniat menggabungkan agenda tersebut dengan Para ASEAN Games, ajang multi event untuk atlet penyandang disabilitas, tapi usulannya ditolak oleh Federasi SEA Games (SEAGF).

"Meskipun kami kecewa sebagai negara tuan rumah karena SEAGF tidak menunjukkan visi dan keberanian untuk melakukan sesuatu yang baru dan luar biasa, kami menghormati keputusan yang dibuat," tutur Khairy dalam jumpa pers.

Dalam rapat dewan SEAGF pekan lalu, Para ASEAN akan ditetapkan pada 17 hingga 23 September 2017. Indonesia juga harus kecewa karena beberapa cabang olahraga (cabor) unggulan Merah Putih yang diusulkan ditolak untuk dipertandingkan.

"Malaysia juga akan memastikan ajang SEA Games dan Para ASEAN Games tetap berlangsung dengan meriah," katanya.

Ada 13 cabor yang diusulkan Indonesia, yakni judo, rowing, gulat, baseball (kategori II), sepeda (MTB dan BMX), muaythai, kempo, perahu naga (Kategori III), jetski, paragliding, sport climbing, tarung drajat (non-kategori), dan bridge. Namun, hanya BMX, judo, dan muaythai yang diterima. Sedangkan bridge ditolak dengan alasan identik dengan perjudian.

Khairy mengatakan Malaysia ingin menggabungkan dua ajang sekaligus karena sesuai dengan tema yang mereka usung yaitu 'Bangkit Bersama'. Untuk menyukseskan SEA Games serta Para ASEAN Games 2017, panitia menargetkan 20.000 relawan bisa terlibat.

Selain itu, dia mengatakan pemerintah masih giat merenovasi Komplek Olahraga Nasional Bukit Jalil alih-alih membuat fasilitas baru seperti yang dilakukan Myanmar pada 2013 dan Singapura pada 2015.

"Saya percaya perbaikan fasilitas yang ada malah akan memperlihatkan tempat yang ikonik kepada peserta dan penonton," kata Khairy.