PLN Bangka Sambung Listrik Daya Premium

Oleh Pebrianto Eko Wicaksono pada 31 Agu 2017, 13:21 WIB
PLN berkomitmen untuk mendorong pertumbuhan industri di Provinsi Bangka Belitung.

Liputan6.com, Jakarta - PT PLN (Persero) menyambung listrik untuk layanan premium dengan daya 5,5 Mega Watt (MW) di Sungailiat, Bangka, untuk PT Timah Balai Karya. Hal ini merupakan salah satu layanan premium dengan kapasitas besar di Sumatera.

Deputi Manajer Hukum dan Humas PLN Wilayah Bangka Belitung, Agus Yuswanta mengatakan, PLN berkomitmen untuk mendorong pertumbuhan industri di Provinsi Bangka Belitung. Dengan menggunakan layanan premium PLN, diharapkan industri akan lebih efisien dan lebih kompetitif.

"PLN berkomitmen mendorong industri di Bangka Belitung, untuk terus bertumbuh dengan percepatan penyambungan listrik, sehingga investor mendapatkan kemudahan melakukan bisnis di sini,” kata Agus, di Jakarta, Kamis (31/8/2017).

Menurutnya, saat ini sudah banyak pelanggan yang tertarik menggunakan layanan premium PLN. Sebanyak 59 pelanggan di Bangka Belitung telah menikmati layanan ini. "Jumlah ini terus bertambah dari waktu ke waktu," ucap Agus.

Kepala Bidang Divisi Keteknikan PT Timah Balai Karya, Ricky Walter Nababan melanjutkan, perusahaanya yang bergerak di bidang manufaktur ini memilih beralih ke layanan premium PLN karena alasan efisiensi biaya produksi.

Sebelumnya, untuk melakukan kegiatan produksi perusahaan ini menggunakan berbagai genset kapasitas 240-2.000 kVA.

“Manfaat yang kami rasakan dengan beralih ke layanan premium PLN ini sangat besar, dari segi biaya kami dapat melakukan efisiensi sebesar 35 persen” ujar ‎Ricky.

Tonton Video Menarik Berikut Ini:

1 of 2

Tekan biaya produksi

PLN ingin mengakuisisi tambang batu bara agar mendapat bahan bakar untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) lebih murah‎. Bahan bakar yang murah dapat menekan Biaya Pokok Produksi (BPP) listrik.

Direktur Pengadaan Strategis II PLN, Supangkat Iwan Santoso mengatakan, saat ini B‎PP listrik terus mengalami kenaikan. Hal tersebut terpengaruh oleh kenaikan harga batu bara.

Berdasarkan data PLN, harga acuan batu bara naik 2016 sebesar US$ 61,8 harga tersebut membentuk BPP Rp1.265 per kilo Watt hour (kWh). Sedangkan harga acuan batu bara kuarta II 2017 US$ 82,2 per ton dengan begitu BPPnya menjaddi Rp1.283 per kWh.
"Gejolak biaya produksi dikarenakan harga energi primer yang sulit dikendalikan oleh PLN," kata Supangkat.

Menurut Supangkat, ‎untuk meredam gejolak harga tersebut, PLN berniat mengakuisisi tambang batu bara, sehingga PLN bisa mengontrol harga batu bara yang akan dipasok ke PLTU. "Akuisisi tambang batu bara yang akan digunakan untuk pembangkit," ucapnya.

Selain itu, dengan mengakuisisi tambang batu bara, PLN bisa membangun PLTU di mulut tambang, dan hal ini akan membuat BPP lebih efisien‎ karena akan memangkas biaya angkut batu bara.

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait

indawanindawan

di bangka apa masih bray pret bray ptet???