Mampukah Aksi Window Dressing Topang Laju IHSG di Akhir Tahun?

Oleh Achmad Dwi Afriyadi pada 03 Des 2016, 13:00 WIB

Liputan6.com, Jakarta Aksi window dressing atau poles saham yang biasa terjadi di akhir tahun diperkirakan tak bisa menopang kinerja pasar modal Indonesia. Alasannya, sentimen global cenderung negatif akan menekan indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Kepala Riset PT MNC Securities Edwin Sebayang mengatakan, secara historis window dressing terjadi dalam 10 tahun terakhir. Posisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kerap menanjak pada Desember.

"Memang kalau kita lihat 10 tahun terakhir biasanya memang ada window dressing. 10 tahun terakhir bulan Desember naik," kata dia kepada Liputan6.com, Sabtu (3/12/2016).

Namun untuk tahun ini meskipun ada window dressing, IHSG diperkirakan tetap akan tertekan di akhir tahun. Alasannya, investor tengah memperhatikan rencana kenaikan tingkat suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (AS) dan program presiden AS terpilih Donald Trump. Imbasnya, investor asing terus melakukan posisi jual saham.

"Dana asing terus keluar, kalaupun ada window dressing tidak terlalu besar dampaknya, karena perhatian orang terus bergeser ke Januari melihat programnya Donald Trump," jelas dia.

Dari dalam negeri sendiri, dia bilang belum tampak sentimen positif penopang laju indeks saham. "So far belum melihat suatu, tadi kan diharapkan tax amnesty, gitu-gitu saja, tidak diharapkan lagi. Dana repatriasi jauh lebih kecil dari perkiraan awal," ujar dia.

Dia memperkirakan IHSG berada pada support 5.250 dan resistance 5.400 sampai akhir tahun. Adapun beberapa sektor yang bisa diperhatikan untuk investasi antara lain tambang, konstruksi, konsumer, dan bank. (Amd/Gdn)